Selasa, 17 April 2012

Anak Angkat dan Anak Pancingan



Setelah enam tahun mengarungi bahtera rumah tangga tanpa dikaruniai anak, pasangan suami-istri Danu – Lola memutuskan menuruti kata para orang tua untuk “memancing” anak. Cara ini mereka lakukan sebagai upaya terakhir untuk mendapatkan anak kandung. Mereka pun mengambil salah satu anak sepupu untuk diasuh.
Ternyata benar! Setahun sejak saat itu, rumah tangga mereka diramaikan tangis lantang bayi pasangan Danu – Lola.

Konflik sebelum mengangkat anak
Mereka yang tidak kunjung punya anak, padahal tidak dinyatakan mengalami gangguan organ reproduksi, akan mengalami kondisi psikologis yang sulit. Sebaliknya, keputusan untuk mengangkat anak pun seyogyanya jangan dilakukan secara gegabah.
“Soalnya ada beberapa tingkat konflik yang harus dilalui pasangan dalam mengangkat anak untuk memancing anak,” tutur psikolog Ieda Poernomo Sigit Sidhi.
Siapa pun pasti berat menerima kondisi itu. Maka, menurut Ieda, reaksi pertama adalah menggugat, mengapa ia yang harus mengalami? “Pertanyaan itu malah bisa jadi masalah baru. Jawaban atas pertanyaan itu adalah hak Tuhan untuk menentukan. Jadi, untuk menyelesaikan tahap ini perlu dasar keimanan yang kuat. Ia harus bisa menerima bahwa memang tidak diberi anak.”
Kalau tahap itu terselesaikan, muncul konflik kedua, yaitu munculnya harapan baru. Ini karena adanya pandangan masyarakat tentang kebiasaan mancing anak. “Konfliknya, ya kalau berhasil, bagaimana kalau tidak? Bila ini bisa diatasi, antara lain istri tidak peduli apakah akan berhasil atau tidak, yang penting mengangkat anak,” ujar Ieda lagi.

Kemudian memilih anak mana yang akan diangkat juga memerlukan pertimbangan tersendiri. Misalnya, pertimbangan tentang asal-usulnya. Apakah anak dari keluarga sendiri, kenalan, atau institusi? Masing-masing pilihan itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kalau masih ada kaitan keluarga, bisa diketahui persis jalur genetika anak itu, sedangkan anak dari institusi tidak. Di samping itu kemungkinan masih ada perangkat formal adopsi yang menghadang. Saat ini ada pandangan, hasil akhir perilaku anak itu 50% ditentukan oleh faktor genetika, sedangkan 50%-nya lagi dipengaruhi oleh lingkungan.
Pikirkan juga suami, apakah ia siap mengangkat anak? Bila tidak, ia akan selalu sulit menerima si anak. “Hal ini tentu berpengaruh terhadap perjalanan keluarga itu selanjutnya.”

Psikis pengaruhi fisik?
Pada kasus pasangan di mana istri berhasil hamil dengan cara memancing anak, Ieda mengaku, belum ada penelitian resmi yang menyatakan langsung saling mempengaruhi. “Asumsinya psikis memang mempengaruhi fisiologis,” tuturnya sambil memberi contoh ada orang yang kalau sedih bisa mendapat haid beberapa kali, namun ada juga yang berhenti sama sekali. Malah dalam kasus yang ekstrem, ada ibu hamil yang ditinggal mati suaminya sehingga mengalami depresi berat hingga keguguran kandungan.
Dengan mengangkat anak, pikiran pasangan itu menjadi tenang. Ketenangan itu yang mungkin memicu pemunculan hormon tertentu untuk terjadinya proses kehamilan yang tadinya kurang.
“Ketenangan ini yang sebenarnya ingin dimunculkan dalam konsep bulan madu. Dengan rileks pengantin baru yang pergi berdua saja diharapkan bisa cepat hamil,” ujar Ieda lagi.
Pendapat paranormal Yenni (40) pun serupa, selain membuat tenang pasangan itu, anak angkat baginya hanya sebuah sarana yang membuatnya makin yakin. “Keraguan pasangan subur itu hilang karena melakukan teladan leluhur, yang biasanya berhasil mendatangkan anak.”
Selain itu, keinginan pasangan itu untuk punya anak bisa terkabul berkat doa keluarga besar anak angkat, yang tentu mendoakan agar si orang tua angkat mendapat berkat dan panjang umur untuk mengasuh si anak pungut dengan baik.

Sejarah keluarga dan pribadi
Namun tak selalu upaya memancing anak memberikan hasil sesuai keinginan pasangan subur itu. Yenni menuturkan, seorang kenalannya telah mengangkat 3 orang anak. Namun hingga kini, jangankan punya anak kandung – hamil pun tak pernah. Padahal adik-adik temannya itu semuanya punya banyak anak.
Ada apa kiranya? Yenni yang punya kemampuan melihat yang tak kasat mata segera melacak sejarah garis keturunan temannya itu. “Teman saya itu punya ayah yang berbeda dengan adik-adiknya. Nah, ternyata sebagian besar keluarga ayah kandungnya itu beranak sedikit,” tuturnya.
Melacak sejarah keturunan keluarga besar itu juga perlu dilakukan, karena jangan-jangan pasangan itu terkena sumpah dari leluhurnya. “Sumpah orang tua yang sangat marah punya energi yang kuat. Bisa saja, kakek menyumpahi orang tuanya, misalnya ‘Biar tahu rasa kalau tidak punya anak!’. Tapi bukannya kena orang tuanya, malah kena dirinya,” Yenni memberi contoh. Kalau sudah begini yang perlu dilakukan adalah meningkatkan keimanan serta berdoa pada Tuhan agar dilepaskan dari ikatan sumpah.
Urusan memiliki anak memang masih misteri. Yenni pun memberi contoh ada pasangan subur yang diramal tidak bakalan punya anak. “Saya bilang, itu urusan Tuhan. Yang penting kita usaha, mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. Ternyata benar, beberapa tahun kemudian ia berhasil mendapatkan anak kandung.”
Ia pun menasihatkan untuk tidak lupa selalu mawas diri dan berpikir positif, “Karena mungkin ia memang diminta Tuhan untuk jadi alat untuk menolong anak-anak yang membutuhkan,” ujarnya sambil memberi contoh ada orang yang tidak punya anak namun memiliki harta yang berlimpah.

Kembangkan ikatan ibu-anak
Terlepas dari berhasil tidaknya upaya itu, Ieda mengingatkan konsekuensi yang harus ditanggung bila mengadopsi anak. Ia menekankan pentingnya konsultasi dengan psikolog, “Ini untuk menimbang berbagai kemungkinan konflik yang timbul di masa depan. Perjalanan hidup seorang anak itu sangat panjang, jadi pertimbangkanlah setidaknya sampai masa dua puluh tahun mendatang.”
Ieda melihat selama ini tindakan mengadopsi dilakukan lebih karena mempertimbangkan kepentingan orang tua. Padahal orang tua sangat perlu mengetahui perasaan anak adopsi yang tentu akan mempengaruhi perkembangan anak itu. Cara termudah untuk mengetahuinya, adalah dengan mengandaikan si orang tua sebagai anak adopsi. Dari sudut pandang itu orang tua akan lebih mudah menata sesuai dengan harapan anak. “Jangan sampai sikap orang tua angkat berubah setelah anak kandung lahir, atau mungkin anak angkat dianggap gagal memancing anak kandung,” ujarnya.

Selain itu orang tua angkat dan anak angkat harus berpijak pada pemikiran, anak bisa hadir melalui berbagai cara. “Yang umum memang lewat kehamilan. Tapi di dunia ini bisa saja Tuhan menghendaki hal-hal yang lain. Jadi, meski bukan anak kandung, anak angkat sudah jadi anak sampai selamanya,” tutur Ieda.
Menurut Ieda, bila orang tua angkat bisa melihat anak angkat sebagai anugerah dari Tuhan bagi keluarga itu, maka tidak akan ada lagi perbedaan antara anak kandung dan angkat. Dari mana pun datangnya, anak adalah titipan Tuhan. Tugas orang tua adalah memberikan bekal supaya ia menjadi manusia yang baik. Pengertian yang betul-betul dewasa akan melahirkan sikap dan perlakuan yang dewasa juga terhadap anak-anaknya.

Umumnya anak-anak sangat peka terhadap perubahan sikap ibu terhadap anak, karena ikatan antara ibu dan anak sangat kuat. Ikatan ini sengaja diberikan oleh Tuhan agar ibu tidak merasa kesal harus hamil selama 9 bulan. “Terus terang hamil sembilan bulan itu banyak susahnya. Tapi dengan ikatan naluriah ibu dan anak, ibu dengan mudah memunculkan rasa sayang sehingga mau menjalani waktu yang lama itu,” tutur Ieda lagi.

Lalu, akan hadirkah hubungan batin itu antara seorang ibu dengan anak angkatnya? Menurut hasil penelitian, ikatan ibu anak tidak otomatis hanya karena proses kehamilan. Ternyata, ibu harus berusaha membangkitkannya, terutama dalam 18 bulan pertama sejak anak itu lahir. Selama masa itu ibu belajar melihat betapa si anak sangat tergantung padanya, butuh kasih sayang, sehingga ia belajar mencintai anaknya. Di sisi lain anak belajar menerima cinta ibu, ia merasakan wanita itu peduli padanya, selalu mau tahu kebutuhannya, dan selalu siap membantunya. Maka terjadilah interaksi saling mencintai.
Pengalaman selama 18 bulan pertama itulah yang menentukan apakah anak akan mempunyai perasaan secure attachment (ikatan yang aman), ataukah anxious attachment (selalu ragu, cemas) mengenai hubungan dengan ibunya.
Kondisi ini membuat posisi ibu kandung bisa tergantikan. “Karena tak semua ibu bisa menunggui anaknya terus,” ujar Ieda sambil memberi contoh ibu yang meninggal karena melahirkan, atau perceraian.
Ini artinya terbuka peluang bagi ibu angkat untuk membantu anak mengembangkan secure attachment. Mungkin itu pula sebabnya, cara terbaik adalah dengan mengambil langsung bayi yang baru lahir.
Lain lagi kalau mengadopsi anak balita. Pada usia ini ia sudah merekam sejumlah pengalaman dalam proses perkembangan sebelumnya. Pada umur 3 tahun muncul kesadaran identitas, bahwa ia berbeda dengan orang lain. Maka kalau ia pernah diasuh oleh seseorang yang berbeda dengan pengasuhan sebelumnya, ia akan dapat kesulitan karena harus mengubah identitas. Sekarang rumahnya, bapak-ibunya yang ini, lalu yang dulu itu siapa? Anak belum bisa mencerna adopsi, yang ia lihat hanya kenyataan. Artinya, anak harus berpindah dan menyesuaikan diri dengan identitas baru.
Akan lebih mudah kalau yang diadopsi kanak-kanak di atas usia balita. Ia tahu persis identitasnya, mengerti perjalanan hidupnya, mengapa ikut bapak ibu yang lain, dsb.

Naluri cari akar
Daripada terus-menerus memikirkan untung-ruginya bagi diri sendiri bila mengangkat anak, adalah manusiawi bila kita juga membayangkan rasanya menjadi anak adopsi. Berbeda dengan anak kandung, suatu kali ia akan merasa kaget, ketika tiba-tiba mengetahui keadaan sebenarnya sebagai anak adopsi.
Konflik yang dirasakannya ialah mengapa ia ditolak, dan diberikan ke orang lain? Menurut Ieda, umumnya anak adopsi tidak pernah bisa mengerti alasan apa pun yang membuat dirinya diberikan kepada orang lain.
Maka tiba-tiba ia merasa menjadi individu yang tanpa identitas. Ia mengalami krisis identitas. Padahal identitas diperlukan manusia dalam mengembangkan sikap dan perilaku untuk penyesuaian diri. Akibatnya anak yang dalam kondisi demikian akan mengalami gangguan sulit menyesuaian diri atau beradaptasi, berekspresi, atau punya gangguan emosional.
Saat itu nasibnya tergantung pada sikap orang tua dan saudara-saudara angkatnya. “Kalau mendukung ia masih bisa terselamatkan. Tapi kalau sebaliknya, maka ia akan makin terperosok,” kata Ieda.
Pada tahap selanjutnya, anak adopsi biasanya punya keinginan untuk mencari orang tua kandung. “Sudah naluri orang untuk mencari akarnya,” tutur Ieda

Hal yang menentukan adalah sambutan dan perlakuan orang tua kandung, “Bisa saja si anak menetap pada orang tua kandungnya, atau kembali ke orang tua angkatnya.” Untuk itu, perlu dijalin kerja sama yang baik antara orang tua biologis dengan ibu yang mengasuh demi keselamatan moril anak. Meski tak dapat dipungkiri, dalam keadaan demikian banyak orang tua angkat dihinggapi perasaan dirinya tidak berarti lagi.
Memang situasi yang tidak mudah. Tak heran bila Ieda menasihati orang tua angkat untuk siap dengan berbagai tahapan yang akan dilalui anak, termasuk bila ia akan mencari orang tua kandungnya.
Berhasil atau tidak, memancing anak rupanya menuntut kemampuan pasangan suami istri untuk mengantisipasi pelbagai masalah psikologis dan emosional yang mungkin timbul. Sementara itu, kapan cara ini berhasil kapan tidak, masih tetap misteri.
Sumber : Shinta Teviningrum (Intisari – November 1999)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungan anda....komentar dong.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Terbaru

Daftar Blog Saya

Merdeka.com

Loading...