Tampilkan postingan dengan label Ikatan dengan Adopsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikatan dengan Adopsi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Saat Adopsi Menjadi Pilihan

Katanya, perempuan akan menjadi sempurna kalau sudah hamil dan melahirkan. Tapi bagaimana kalau kehamilan yang dinanti-nanti tidak juga datang? Setelah 6 tahun menikah dan menjalani berbagai cara untuk punya anak, Hera Hendarti, akhirnya memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Mayra Rahmatudinna (Andien) sekarang berusia 21 bulan, tumbuh sehat dan cantik.
Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Hera dan ia dengan terbuka mengungkapkan pengalamannya.

Gimana ceritanya sampai akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak?
Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk mempunyai anak. Mulai dari ke dokter sampai ke alternatif yang katanya bisa bantu punya anak, tapi belum dikasih-kasih juga. Sempat ada omong-omong sama suami untuk adopsi anak, tapi mungkin belum jodoh juga ya, jadi nggak jadi-jadi terus. Akhirnya pas perkawinan menginjak 5 tahun, Allah kasih jalan untuk adopsi anak dan Alhamdulillah jadi rejeki yang tak terduga

Reaksi keluarga saat kamu dan suami memutuskan untuk adopsi anak?
Kalo reaksi suami Alhamdulillah positif karena memang kita punya rencana untuk adopsi. Reaksi keluarga dari 2 belah pihak Alhamdulilah sangat welcome, sayang banget seperti ke cucu atau keponakan kandung. Andien amat sangat disayang kedua belah pihak, karena sama-sama cucu pertama.

Kan tadi bilang udah sempat omong-omong untuk adopsi tapi nggak jadi-jadi, nah ketika akhirnya terealisasi juga dan menjatuhkan pilihan pada Andien, ceritanya seperti apa?
Waduh prosesnya sangat tak terduga ketemu sama ibu kandung Andien, sangat sangat diluar dugaan. Pertama ada om yang ketemu sama ibu muda yang lagi hamil tua. Ibu ini bingung mau diapain anaknya, karena dia ditinggal kabur sama suaminya. Malah tadinya dia mau ningggalin bayinya di bidan aja, karena dia tau tidak akan bisa merawat bayinya. Om aku ini langsung cerita ke mama, dan begitu aku denger kok langsung kepengen ketemu sama si ibu ini. Akhirnya aku ketemuan sama dia dan ternyata dia adalah seorang single parent yang luar biasa dan sangat sayang sama anak yang dikandungnya, maka dia memutuskan memberika ke keluarga yg memang lahir batin ikhlas dan sayang sama anaknya, daripada sia-sia kalau sama dia.

Proses semua ini cepet banget! Nggak sampe 10 hari dari pertama ketemu sama si ibu, Andien lahir! Aku seperti mimpi, dalam hitungan hari yang cepet banget tau-tau punya anak sendiri. Aku bener-bener clueless harus punya apa aja kalau punya bayi, untung banyak saudara dan teman yang bantuin ngasih tau apa aja yang harus dibeli.
Kalau ibu lain punya waktu 9 bulan mempersiapkan segalanya, aku cuma punya waktu seminggu! Amazing banget! Dan mungkin juga udah jalannya ya, jadi semuanya dilancarin mulai dari proses bertemu, sampe proses melahirkan dan pengadilan semuanya lancar.

Jadi kamu bertemu Andien di usia berapa hari?
2 jam setelah lahir, langsung sama bidannya ditempelin ke aku. Tidak ada proses inkubator seperti bayi-bayi lain dan Alhamdulilah sehat tidak kurang satu apapun”

Proses adopsinya sendiri seperti apa?
Karena aku adopsi langsung dari ibu kandungnya, maka tentu yang pertama aku dan suami berbicara dengan beliau. Ditanyakan lagi ikhlas atau tidak, dan kita mau semuanya sah secara hukum. Alhamdulillah dia setuju, ikhlas, dan semua berjalan mulus
Alhamdulilah omnya suami adalah seorang hakim, jadi dia ikut andil dalam mengurus surat-surat untuk legalitas dan asuransi kantor. Ini salah satu bentuk support dari keluarga suami yang menurutku sangat besar andilnya. Allah Maha Besar, Alhamdulillah sekali lagi kita tidak mengeluarkan uang yang sangat besar hanya administrasi aja.

Setelah punya Andien, apa yang paling berubah dari hidup kamu?
Wah banyak banget! Jadi lebih sabar dan nggak selebor secara punya anak pastinya harus memberikan yang paling baik. Perkara jalan sama teman atau kebetulan aku suka traveling, mau nggak mau ditunda dulu deh. Berat rasanya ninggalin Andien. Yah, nggak ada bedanya deh, sama yang punya anak kandung.

Masih mau nambah adik buat Andien?
Insya Allah kita tetap berusaha, tetapi kalau Allah hanya mengijinkan hanya boleh mengasuh Andien aja kita udah ikhlas karena baik anak kandung ataupun bukan, ini juga amanah dari Allah.

Akan memberi tahu Andien mengenai asal usulnya?
Pasti suami dan aku akan ngasih tahu. Menurutku dia harus tahu. Walaupun terbesit dalam hati was-was apakah dia mau menerima ini, atau ada kepikiran nggak-nggak tentang orangtua kandungnya, tapi kita pikir ya memang harus. Apalagi dia anak perempuan, kalau dia menikah kelak harus tau asal-usulnya.

Ada cerita yang tidak bisa dilupakan tentang proses adopsi anak ini?
Beberapa hari setelah si ibu melahirkan, dia pulang ke kampungnya. Aku dan suami mengantar ke bandara. Sampai di bandara, si ibu memeluk aku dan nangis terus, bukan karena nggak ikhlas akan anaknya tapi dia menangis justry karena ada yang benar-benar mau merawat anaknya. Aku janji sama dia akan merawat Andien sepenuh hati. Sampai di rumah, aku gendong Andien, tau-tau dia nangis. Bukan nangis haus atau lapar, tapi nangis sediiiihhh sekali, mungkin bau ibunya masih nempel di aku ya? Aku cuma berbisik, “Andien jangan sedih, bunda sayang sama kamu dan nggak akan sia-siain kamu”. Ajaib, langsung berhenti nangisnya.

Ada pesan atau tips buat Ibu-ibu lain yang berencana adopsi anak?
Yang pertama tentu, urus masalah hukum secepatnya. Buat keamanan kita semua juga, karena kalo kita udah sayang banget pastinya sedih kalo ada apa -apa di kemudian hari. Terus kalau memang sebelumya ada anak kandung atau malah setelahnya ada anak kandung, jangan pernah beda-bedain dengan yang lain untuk kasih sayangnya. Dan terakhir, pastikan keluarga besar kita menerima si anak dengan ikhlas supaya nggak jadi omongan. Maklum di Indonesia kan situasi seperti ini masih aja suka jadi omongan.
Terima kasih ya Hera sudah berbagi cerita dengan Mommies Daily. Semoga Andien tumbuh jadi anak yang selalu sehat dan bahagia :)

Sumber :

Kamis, 22 November 2012

Adopsi tingkatkan kualitas hidup pasangan infertilitas

Pasangan yang mengadopsi anak setelah gagal menjalani pengobatan fertilitas biasanya memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hasil penelitian ini disampaikan oleh seorang peneliti Swedia, setelah membandingkan berbagai jenis pasangan.

Peneliti mengamati lebih dari 970 pasangan yang menjalani program bayi tabung lima tahun setelah masa pengobatan. Dalam penelitian tersebut, kualitas hidup pria dan wanita diukur berdasarkan tingkat kesejahteraan psikologis dan koneksi perasaan. Hasilnya menunjukkan bahwa pasangan yang mengadopsi anak setelah gagal bayi tabung memiliki kualitas hidup lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengadopsi setelah gagal tabung.

"Ini menunjukkan bahwa kualitas hidup sangat terkait dengan anak-anak. Terlepas dari apakah mereka hasil kehamilan spontan, adopsi atau anak tiri," kata Marie Berg, profesor dari Sahlgrenska Academy, Universitas Gothenburg, seperti dilansir Health.com, (20/11).

Penelitian ini telah diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica.

Sumber : 

Sabtu, 17 November 2012

Adopsi Anak Sebaiknya Dilakukan di Bawah 3 Tahun

ANAK merupakan anugerah yang didamba oleh setiap pasangan yang menikah. Namun, saat buah hati tak kunjung datang, adopsi bisa jadi jalan keluar.

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, anak merupakan salah satu anugerah yang dinanti. Anak merupakan simbol cinta kedua pasangan, sekaligus generasi penerus keluarga. Sayangnya, tidak semua pasangan dapat diberikan anugerah ini. Tidak sedikit pasangan yang harus menunggu hingga bertahun-tahun demi hadirnya si buah hati. Tidak sedikit pula yang harus berkecil hati karena memang tidak dapat memiliki anak.

Saat harapan memiliki anak kandung telah pupus, tak ada salahnya untuk mengambil jalan adopsi. Banyak anak yang kurang beruntung hingga terpaksa diserahkan orangtuanya pada panti asuhan guna mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan mengadopsi, di antaranya faktor usia.

“Saat mengadopsi anak di atas tiga tahun, kita tidak mengetahui sebelumnya apa yang dia alami. Karenanya, jangan memiliki ekspektasi yang terlampau besar padanya,” tutur psikolog Anna Surti Ariani. S.Psi., M.Si pada dafa1news.com saat dijumpai di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Minggu 17 Juni 2012.

Sesungguhnya tidak ada batasan umur tertentu kala Anda ingin mengadopsi seorang anak. Namun, semakin dini dia berada dalam pengasuhan Anda, maka akan semakin baik pula perkembangannya kelak. Saat anak tersebut berada dalam pangkuan Anda sejak bayi atau setidaknya di bawah tiga tahun, Anda tentu dapat memenuhi kebutuhannya. Sehingga tumbuh kembangnya dapat terpantau secara tepat.

Anda juga perlu memikirkan mengenai jenis adopsi yang Anda ambil. “Saat ini ada tiga jenis adopsi, yakni adopsi terbuka, setengah terbuka, dan tertutup,” kata psikolog yang akrab disapa Nina ini.

Adopsi terbuka, yakni sang anak mengetahui siapa jati dirinya dan orangtua yang sebenarnya. Adopsi setengah terbuka di mana anak mengetahui dirinya merupakan anak adopsi, namun tidak mengetahui secara pasti siapa orangtuanya. Sedangkan adopsi tertutup adalah saat anak benar-benar tidak mengetahui bagaimana jati diri sesungguhnya.

Lalu apakah jenis adopsi yang terbaik?

“Tidak ada yang terbaik atau terburuk. Semuanya tergantung dari kesiapan orangtua asuh dan orangtua kandungnya. Kalau memang orangtua kandung merasa benar-benar tidak ingin mengetahui anaknya kelak, sebaiknya pilih yang tertutup saja,” tutup Nina.

http://www.dafa1news.com/adopsi-anak-sebaiknya-dilakukan-di-bawah-3-tahun.html

Selasa, 06 November 2012

Bahaya Jika Adopsi Anak Hanya Untuk Dijadikan Pancingan Hamil

Detikmaya- Memiliki anak menjadi impian hampir semua orang. Impian tersebut ada yang ingin diwujudkan seseorang meski belum menikah dan tentunya mereka yang sudah menjadi suami-istri.

Untuk pasangan suami-istri, anak bisa didapat melalui proses kehamilan. Namun tidak semua pasangan beruntung bisa memiliki anak sendiri. Ketika hal itu terjadi, adopsi bisa menjadi pilihan.


Menurut psikolog dari Universitas Atmajaya, Wieka Dyah Partasari, ketika suami-istri memilih mengadopsi anak, keputusan tersebut memang dipilih atas kesepakatan bersama. "Adopsi menjadi pilihan mereka di antara berbagai alternatif yang ada. Harapan ketika mengadopsi ini juga sudah cukup realistis," ujar Wieka saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Kamis (29/3/2012).


Harapan realistis yang dimaksud Wieka adalah memang pasangan itu ingin menjadi orangtua. "Bukan mengadopsi anak sebagai pancingan atau ada harapan-harapan terselubung," jelasnya. Kalau pasangan mengadopsi anak dengan tujuan hanya sebagai pancingan, Wieka mengatakan, ke depannya bisa menjadi masalah tersendiri.


Hal itu karena ketika suami-istri sudah ingin mengadopsi anak, ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Pertama, menurut Wieka, yang paling penting adalah kesiapan mental pasangan tersebut.


Pasangan juga harus punya komitmen yang kuat karena menjadi orangtua bukan sesuatu yang mudah. "Memiliki anak itu adalah suatu perubahan yang membawa banyak konsekuensi. Segala macam perubahan hidup akan sulit dijalani kalau belum siap," tutur ibu dua anak itu.


Bukan hanya kesulitan untuk mengasuh anak saja bahaya yang akan dihadapi pasangan ketika mengadopsi anak sebagai pancingan. Nantinya pasangan tersebut juga harus siap menghadapi dampak psikologis ketika mereka sendiri punya anak kandung. Apakah kasih sayang pada anak adopsi (yang awalnya sebagai anak pancingan) akan tetap sama? Bagaimana jika si anak kemudian merasa tersisihkan? Tentunya kalau hal tersebut terjadi, orangtua tersebut sudah mengorbankan anak.


Tidak hanya perubahan pada hal-hal teknis seperti jadwal tidur saja yang harus dihadapi pasangan ketika memiliki anak. Dijelaskan Wieka, kehadiran anak juga mempengaruhi relasi antara suami-istri.


Selain mental dan komitmen yang juga harus disiapkan pasangan ketika ingin mengadopsi anak adalah mengumpulkan informasi. Pengetahuan tentang adopsi ini penting diketahui terutama jika suami-istri ingin mengadopsi anak dari lembaga formal seperti Yayasan Sayap Ibu.


"Orangtua harus punya informasi yang lengkap. Dari situ mereka bisa menimbang apakah memang sepakat dengan informasi tersebut," imbuh wanita yang sehari-harinya mengajar psikologi klinis itu.


Setelah mental siap dan punya cukup informasi, persiapan yang tak kalah pentingnya adalah memberitahukan keluarga besar. Bagi masyarakat Indonesia, keluarga merupakan orang yang juga memiliki peranan.


"Ini sangat khas dengan budaya kita. Keluarga besar sesuatu yang penting. Anak akan tumbuh lebih mudah dan optimal kalau keluarga besar tahu. Calon kakek dan nenek bisa menerima dengan gembira," urainya.


Keluarga besar juga perlu diinformasikan soal kapan Anda, sebagai orangtua akan memberitahu anak soal statusnya. "Pada usia berapa, bagaimana caranya, siapa yang akan mengatakan," tukas Wieka.


Persiapan untuk mengadopsi anak di atas juga berlaku untuk Anda yang single parent atau belum menikah. Namun untuk yang single, persiapan mentalnya harus lebih ekstra.


"Karena kalau saya melihat bebannya lebih berat. Kalau pasangan kan berdua. Kalau single maka dia perlu mempersiapkan diri sebagai orangtua tunggal. Dapat support dari keluarga besar. Keputusan ini perlu dibicarakan," jelas psikolog kelahiran Surabaya, April 1971 itu.
(sumber)

Minggu, 04 November 2012

Mitos dan Fakta tentang Adopsi

Menjadi ibu angkat merupakan  pengalaman yang dilematis. Di satu sisi, menjadi ibu seorang anak yatim piatu adalah perbuatan terpuji. Di sisi lain, masih banyak pandangan negatif terhadap wanita yang memutuskan untuk mengadopsi anak. Berikut mitos dan fakta yang banyak dihadapi Ibu angkat.
Mitos : Seorang ibu sejati  tidak akan pernah benar-benar  menyerah untuk mendapatkan anak sendiri. Jika mengadopsi, maka  Anda tidak layak untuk menjadi ibu.
Fakta : Seorang ibu yang tulus menciptakan rencana adopsi demi anak telah  menempatkan kepentingan anak tersebut  di atas dirinya sendiri. Ini adalah pengorbanan utama bagi seorang ibu, memilih hidup untuk anaknya dan menyadari apa yang terbaik bagi anaknya. Adopsi adalah proses kepedulian dan tanggung jawab yang secara  alami dimiliki orangtua.
Mitos : Anak(adopsi)-ku  akan membenciku suatu ketika.
Fakta : Rancanglah rencana adopsi  Anda sendiri, sehingga memungkinkan  untuk berbagi informasi sedikit atau sebanyak yang diinginkan tentang diri dan keputusan Anda. Memberikan anak sebuah karunia hidup, dan menempatkan kebutuhan sebagai yang utama adalah prioritas setiap orang tua. Tetaplah berpegang pada prioritas ini dibanding hal lainnya. Kebenaran mengenai status anak, dapat dijelaskan ketika Ia telah dewasa untuk menerima fakta secara rasional.  
Mitos : Adopsi merupakan solusi yang tidak bertanggung jawab atas kehamilan yang tidak direncanakan.
Fakta : Adopsi membutuhkan orang yang kuat dan bertanggung jawab. Jangan merasa bersalah ketika mempertimbangkan adopsi atau memikirkan orangtua sang anak sebagai hukuman layak atas kehamilan yang tak direncanakan. Membuat pilihan agar anak  dapat dibesarkan di lingkungan yang dapat memberikan hal-hal yang  tidak mampu diberikan orang tuanya adalah hal yang sangat berani dan bertanggung jawab.
Mitos : Anak Diadopsi akan lebih banyak bermasalah ketimbang anak yang tidak diadopsi.
Fakta : Anak yang diadopsi dapat tumbuh sebaik anak-anak  non-adopsi. Sebuah studi di tahun 1994  oleh The Search Institute  menyimpulkan beberapa fakta berikut: anak adopsi memiliki nilai lebih tinggi di kelas menengah dibanding anak-anak non adopsi seusianya. Ini menjadi  indikator kinerja sekolah dan kompetensi sosial anak adopsi. Anak adopsi yang lebih dewasa  umumnya kurang tertekan dibanding anak-anak dari orang tua tunggal. Selain itu, anak adopsi lebih sedikit berkait dengan alkohol, vandalisme, pertempuran, bermasalah dengan polisi, penyalahgunaan senjata, dan mencuri. Dalam kondisi kesehatan, anak adopsi memiliki skor lebih tinggi daripada anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Dibandingkan dengan populasi anak-anak pada umumnya, anak-anak telah tinggal bersama orang tua angkat memiliki kondisi ekonomi yang  lebih baik dan menekan angka perceraian orang tua angkat. Demikian dituturkan oleh Patrick Fagan dalam bukunya  “Adopstion: The Best Option”.
Mitos : Tidak ada yang dapat mencintai anak setara orangtua biologis.
Fakta : Kendati diakui, orang tua biologis memiliki cinta  luar biasa bagi anak mereka, bukan berarti ini adalah masalah biologis atau tidak. Cinta kasih bukanlah hal yang diwariskan. Cinta orang tua adopsi  anak  adalah hasil  upaya dan keinginan untuk menjadi orangtua. Orang tua angkat yang memiliki cinta sejati dan kesetiaan kepada anak adopsi karena mereka mensyukuri telah memiliki anak dalam hidup mereka. Anak-anak dapay belajar bahwa konsep 'keluarga' bukan terpaku semata-mata pada biologis. Mereka juga dapat belajar, cinta mampu melampaui batas-batas  norma sosial buatan manusia. Anak-anak dapat belajar bahwa menutup satu pintu dapat membuka pintu lain dan lain-lainnya.
Mitos : Orang tua biologis harus mengucapkan selamat tinggal selamanya dan jangan  pernah mendengar apapun soal anak yang telah diberikan pada orang tua lain.
Fakta : Di masa lalu, adopsi  menutup informasi masa lalu anak selurunya, seolah  diambil dari ibu kandungnya untuk selamanya. Anak harus menjalani sisa hidupnya dengan tidak pernah mengetahui apa yang sejarah dirinya. Hari ini, Anda dapat membuat rencana sendiri  yang  memungkinkan anak  memiliki  orang tua angkat juga bertemu orang tua biologisnya. Orang tua biologis dapat tetap berhubungan saat anak telah tumbuh dewasa dengan menerima gambar dan surat-surat yang dapat memastikan anak berada di tangan yang tepat. Adopsi terbuka juga memungkinkan orang tua biologis untuk tetap berhubungan melalui panggilan telepon dan kunjungan  sesekali.
Laili/ dari berbagai sumber
http://m.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Mitos-dan-Fakta-tentang-Adopsi 

Sabtu, 03 November 2012

35 Keluarga Ajukan Adopsi Bayi Malang

Jumlah keluarga yang  mengajukan diri untuk mengadopsi bayi malang yang ditemukan di dekat rel Sepur Dusun Kasiran, Mlipak pada 3 Mei lalu terus bertambah. Tercatat jumlah keluarga yang berminat menjadi orang tua bayi cantik tersebiut mencapai 35 keluarga berasal dari berbagai daerah.
Setelah mendapatkan perawatan di RSUD Sejtonegoro Wonosobo, Bayi yang oleh pihak perawat diberi nama Naurel itu, untuk proses pengajuan adopsi ditangani oleh Polres Wonosobo bekerja sama dengan Unit Pelayanan Informasi Perempuan dan Anak (UPIPA) Wonosobo.
Koordinator UPIPA Wonosobo Nuraeni Ariswari mengatakan, bahwa untuk proses adopsi bayi malang yang ditemukan dibawah pohon pisan dekat bekas rel sepur tersebut dilakukan sesuai prosedur. Sejak dibuka pendaftaran bagi calon orang tua angkat pada 3 Mei lalu. Jumlah pendaftar yang mau mengadopsi terus bertambah.
“ Pada awal saat ditemukan yang mendaftar baru 5 keluarga, hingga saat ini jumlah nya terus bertambah,”katanya.
Dijelaskan dia, total jumlah keluarga calon pengadopsi mencapai 35 keluarga. Jumlah tersebut masih terus bertambah, namun untuk mempercepat proses pengasuhan anak pendaftaran sudah ditutup.
“ Sampai saat ini masih ada yang berminat mendaftar, namun kami tutup dan sudah ada calon pengadopsi yang terpilih,”katanya.
Untuk para pendaftar, kata dia,  ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya harus sudah menikah minimal 4 tahun dan belum dikaruniai anak. meski begitu sejumlah keluarga yang akan mendaftar banyak yang sudah mempunyai anak, namun laki-laki dan tertarik mempunyai anak perempuan.
“ Untuk prioritas sesuai ketentuan yang sudah menikah lama dan belum mempunyai anak,”katanya.
Dari total pendaftar tersebut, Nuraeni mengatakan sudah dicapai keputusan proses adopsi bayi candik tersebut diambil oleh sebuah keluarga di luar Wonosobo. Pasangan suami istri yang beruntung tersebut, sudah menikah lebih dari lima tahun namun belum dikarunia anak. Bahkan pihak perempuan keluarga tersebut sudah periksa dokter dan diperkirakan kemungkinan kecil bisa hamil.
“Meskipun belum punya anak, ada ketentuan lain. Keluarga yang akan mengadopsi harus memenuhi syarat dalam pemenuhan hak anak untuk proses masa depan anak,”katanya.
Syarat yang harus dipenuhi, imbuh Nuraeni, diantaranya secara ekonomi harus mempunyai kelayakan untuk membiayai dan membesarkan anak. Secara jasamani dan rohani juga harus ditunjukan keduanya dalam posisi sehat.tidak kalah penting keduanya harus menandatangani komitmen untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, dari tumbuh kembang, kesehatan hingga pendidikan.
“ Prinsipnya pasangan suami istri yang bisa mangadopsi harus tanggungjawab dalam perlindungan masa depan anak,”katanya.
Ditambahkan dia, dipilihnya pasutri bukan asal Wonosobo tersebut untuk melindungi anak dalam masa depan sehingga kejadian suram terkait pembuangan bayi bisa dilupakan publik. Untuk proses selanjutkan sebelum melalui pengadilan, keluarga baru Naurel tersebut akan dipantau selama enam bulan sebagai uji kelayakan menjadi orang tua.
“Setelah enam bulan kita evaluasi. Kalau layak segera diurus untuk proses adminitrasi di pengadilan,”tandasnya.
Terpisak Kapolres Wonosobo Ajun Komisaris Besar Adi Wibowo melalui Kasubag Humas Ajun Komisari Widayatno mengatakan, bahwa pelaku pembuangan bayo tersebut belum diketahui. Untuk proses penggalian bukti masih terus berjalan.
“ Kami masih mencari identitas pelaku pembuangan seperti laporan sejumlah saksi yang kita mintai keterangan,” katanya. (rase) 

Selasa, 22 Mei 2012

Tips Membangun Ikatan Dengan Anak Adopsi

Sumber : 

Mengadopsi seorang anak ke dalam keluarga merupakan salah satu momen yang paling menyenangkan dalam kehidupan setiap keluarga. Pastikan agar pengenalan anggota keluarga baru dari keluarga Anda dapat menjadi pengalaman indah yang positif baik bagi anak angkat Anda maupun anak kandung yang telah Anda miliki.
Memiliki ikatan dengan anak adopsi merupakan langkah penting untuk menjadi sebuah keluarga, terutama bila anak yang diadopsi masuk ke dalam sebuah keluarga yang telah memiliki anak biologis. Anda mungkin bersemangat menyambut anak baru Anda dengan menyambar anak adopsi ke dalam pelukan dan memintanya untuk bergabung ke dalam keluarga, namun kesalahan besar yang dapat Anda lakukan adalah dengan melakukan segala hal itu dengan terburu-buru.
Menurut Dr. Scott Hatlzman, MD dari Brown University, “Memperkenalkan anak-anak kepada seorang anak adopsi bukanlah satu langkah kejadian, namun proses yang melalui serangkaian fase.”
Perubahan bisa menjadi sulit bagi semua orang, namun anak-anak dapat menjadi tangguh dengan dukungan yang tepat. Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk memastikan bahwa proses ini merupkaan suatu hal yang positif ketika mendorong anak-anak biologis dan anak adopsi Anda memiliki hubungan dan saling terikat sebagai saudara.
1. Persiapan Waktu
Saat mengadopsi anak, pendekatan “Surprise!” kepada anak-anak biologis Anda bukanlah pilihan terbaik. Persiapkan anak biologis Anda untuk kedatangan tambahan anggota keluarga baru dengan membacakan buku-buku mengenai adopsi kepadanya, tekankan pentingnya anak biologis Anda dalam proses ini, dan selebihnya untuk membantu mengurangi kemungkinan timbulnya kebencian akibat perubahan besar dalam keluarga.
2. Waktu Bermain
Untuk membantu membangun hubungan emosional antara anak kandung dengan anak adopsi, biarkan mereka menghabiskan waktu bersama dan memiliki waktu mereka sendiri. Setelah pengenalan awal, rencanakan tanggal khusus agar mereka dapat bermain bersama-sama, berjalan-jalan ke taman, berjalan-jalan ke taman, maupun aktivitas yang dapat mereka nikmati bersama untuk meletakkan landasan dan membangun hubungan saudara.
3. Fokus Satu – Satu
Semua orangtua ingin membuat anak-anak mereka merasa istimewa, dan menghabiskan waktu khusus dengan setiap anak kandung maupun anak adopsi Anda adalah kunci untuk memperkuat pesan ini. Bersaudara tidak berarti selalu melakukan segala sesuatu bersama-sama. Dengan melakukan hal ini akan membantu memberikan penekanan kepada peran masing-masing anak sebagai anggota keluarga inti dari keluarga Anda yang sedang berkembang.
4. Membangun Tradisi
Mengembangkan tradisi bersama di antara anak-anak kandung dan anak adopsi sangatlah penting. Baik itu melalui kegiatan mingguan maupun hobi bersama, berbagi pengalaman akan membantu mempromosikan ikatan dan keterikatan.
5. Mencari Dukungan
Adopsi merupakan sebuah pengalaman yang kompleks. Sebuah keluarga menyambut seorang anak menjadi anggota keluarga baru ke dalam rumah mereka mungkin membutuhkan dukungan luar dari pihak yang profesional dan berpengalaman menghadapi kasus adopsi dan pencampuran keluarga. Cobalah cari organisasi yang dapat membantu di daerah lokal Anda.
Perlu diingat bahwa membantu anak biologis Anda membangun ikatan dengan saudara baru mereka sama pentingnya dengan ikatan yang terjadi antara anak angkat dengan orangtua barunya. Jagalah agar jalur komunikasi tetap terbuka, dan berikan dorongan melalui hal-hal umum yang terjadi di antara anak-anak Anda. Penerimaan terjadi secara bertahap, dan hal itu memang normal. Namun menyatukan anak kandung dengan saudara adopsi mereka dapat memperkaya kehidupan setiap anggota keluarga. Dengan sedikit dedikasi dan kesabaran, keluarga Anda akan segera melupakan seperti apa keluarga Anda dahulu sebelum anak adopsi datang memberkati kehidupan Anda!
Sumber : sheknows.com

Membantu Anak Adopsi Menjalin Ikatan dengan Keluarga Baru

Sumber : http://doktermu.com/Psikologi/bagaimana-membantu-anak-adopsi-menjalin-ikatan-dengan-keluarga-baru.html

Anda sekarang sudah menjadi orang tua. Anda telah memutuskan untuk berbagi kasih sayang dengan seorang anak adopsi. Akan tetapi, hanya dengan membawa mereka pulang mungkin belum cukup untuk membantu mereka merasa sebagai bagian dari keluarga Anda. Berikut ini beberapa saran untuk mempermudah
masa transisi mereka.

Membawa pulang seorang bayi
Kebanyakan keluarga memiliki gambaran yang berbeda mengenai adopsi. Hal itu bisa menciptakan ketegangan antara anggota keluarga dengan anak yang baru. Sementara orangtua yang mengadopsi adalah orang yang harus paling menganggap anak adopsi tersebut sebagai anak mereka sendiri,  anggota keluarga yang lain juga akan memberi dampak bagi kehidupan si anak adopsi.

Mengadopsi seorang bayi kebanyakan sama seperti membawa pulang seorang bayi yang telah Anda lahirkan. Mereka terlalu muda untuk mengerti proses adopsi namun Anda bisa memperkenalkan kepada seluruh anggota keluarga Anda. Adakan pesta penyambutan ketika adopsi sudah selesai. Hal ini akan memberikan kesempatan untuk bertemu dengan tambahan anggota keluarga yang baru dan belajar untuk menjalin ikatan dengannya.

Sebagian besar kelahiran dirayakan lewat upacara keagamaan. Dalam kepercayaan Kristen, ada yang namanya pembaptisan. Undang keluarga dan teman-teman untuk menyaksikan Anda menjalin ikatan dengan anak baru Anda di hadapan otoritas yang lebih tinggi. Dengan melihat komitmen kepada anak tersebut dapat menginspirasi anggota lain dalam keluarga Anda untuk melakukan hal yang sama.

Membawa pulang anak yang lebih besar


Anak yang lebih besar, yang diadopsi, mengerti apa yang terjadi. Mereka juga dapat merasa cemas memikirkan untuk pindah ke rumah lain. Jika mereka pernah dirawat di panti asuhan atau pernah melalui proses adopsi sebelumnya, mereka pasti merasa bahwa hal yang sama akan terjadi lagi apapun jaminan Anda.

Bicarakan dengan anak kandung Anda jika ada. Beri tahu mereka bahwa mereka akan memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan lain, namun berasal dari adopsi dan bukan dilahirkan. Jelaskan pada mereka bahwa semua keluarga tidak harus memiliki hubungan darah untuk dicintai.

Dengarkan pertanyaan mereka dan jawab setiap pertanyaan yang mungkin mereka miliki. Hal ini bisa jadi hal yang menyeramkan juga untuk mereka. Mereka mungkin bertanya-tanya tentang kedudukan mereka di dalam keluarga jika ada saudara adopsi lain yang datang. Pastikan kepada mereka bahwa ada cukup kasih sayang bagi semuanya.

Bicara dengan anak adopsi Anda. Tanyakan kepada mereka tentang ketakutan dan keraguan yang mungkin mereka miliki. Tunjukkan foto keluarga baru mereka. Berikan jawaban yang jujur atas pertanyaan mereka. Diskusikan apa yang Anda harapkan dari mereka.

Cobalah bertemu di tempat-tempat netral seperti di taman atau taman bermain untuk pertemuan pertama dengan anak Anda yang lainnya. Tekanannya tidak terlalu besar bagi mereka dan anak-anak akan dapat berkomunikasi dengan cara mereka sendiri. Lakukan pertemuan seperti ini beberapa kali sebelum mengajak anak adopsi Anda pulang ke rumah bersama Anda bisa membantu meningkatkan tingkat kenyamanan dan membuat proses pindah menjadi lebih mudah.

Membawa pulang seorang anak adopsi bisa menjadi hal yang tidak nyaman bagi anggota keluarga. Buatlah agar lebih mudah dihadapi dengan pertama kali memperkenalkan mereka kepada keluarga Anda.

Komunitas dan Grup Adopsi di Facebook

  1. Pencarian anak angkat

  2. Komunitas Keluarga dan Anak Adopsi Indonesia (KOGADOPSI)

  3. Anak Angkat untuk dibela

  4. https://www.facebook.com/pages/Mencari-Anak-Angkat/399404573141?ref=ts

 

Cinta tak Bersyarat untuk Anak Adopsi


Tiga tahun yang lalu masa depan Tegar (5) tampak begitu suram. Walau penghuni di Yayasan Sayap Ibu ini memiliki raut muka manis, belum pernah satu pun pengunjung yayasan itu berniat mengadopsinya. Pasalnya, kedua kaki mungil Tegar bengkok dan dipasangi besi. Tentu hal ini membuat para calon orang tua angkat kebanyakan langsung meletakkan Tegar kembali, begitu melihat kaki besinya. Meski satu per satu boks di sisi Tegar berganti penghuni, Tegar tetap tergolek pasrah.

Kisah di atas adalah cerita masa lalu. Karena kini Tegar sudah bisa berlari ceria seperti anak-anak normal lainnya. Ia bisa begini karena pasangan suami istri Hermalia dan Rudiawan Saleh. Mereka mantap memilihnya sebagai anak adopsi, walau saat itu Tegar divonis tak bisa sembuh. Keduanya rela mengeluarkan biaya hingga ratusan juta plus waktu dan energi yang tak terhitung demi kesembuhan Tegar. Padahal, hingga kini status mereka menjadi orang tua angkat Tegar belum lagi resmi, karena prosesnya yang berbelit.


Inilah potret cinta tanpa pamrih, yang seharusnya dijadikan acuan oleh mereka yang ingin mengadopsi anak. Pasalnya, tidak sedikit orang tua adopsi yang mengeluh bahkan mengembalikan anak adopsi, jika di kemudian hari anak itu tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah. Inikah akibat dari motivasi pengambilan anak yang rancu? Dan, mengapa sistem pengadopsian legal di Indonesia prosesnya ribet?

ADOPSI DI MATA HUKUM
Menurut Roslina Verauli, kebanyakan masalah yang timbul dari proses adopsi adalah ketidaksiapan orang tua adopsi. Kebanyakan dari mereka mengadopsi anak sebagai objek. Entah motivasinya untuk ‘memancing’ agar memiliki anak kandung, sekadar membagi rezeki, atau dianggap sebagai ‘syarat’ untuk melancarkan rezeki. Atau bisa juga, mengadopsi anak agar hidupnya tidak kesepian.

Masalah lain adalah mereka nekat mengadopsi, padahal ada kekurangan yang belum diselesaikan. Misalnya, rasa frustrasi karena tak bisa memiliki keturunan atau pasangan yang sebetulnya tidak ikhlas menjalankan perannya sebagai orang tua angkat.


Padahal, diakui Vera, panggilan akrab Roslina, dalam proses tumbuh kembang anak sering terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai dari anak yang gampang sakit atau cengeng sampai masalah fatal, seperti bertemperamen tinggi atau tingkat kecerdasannya tidak seperti yang diharapkan. Mereka yang kondisinya masih gamang saat mengadopsi, umumnya langsung berpikiran ‘hal ini tidak akan terjadi kalau dia anak kandung’. Padahal, tanpa disampaikan secara lisan pun, pola membanding-bandingkan tersebut akan dirasakan oleh anak.


Menurut Vera, seharusnya tindakan mengadopsi dilakukan bukan sekadar karena merasa siap finansial dan siap berbagi kasih sayang. Jadi, keputusan adopsi sebaiknya dilakukan setelah mampu memenuhi aneka ragam kebutuhan anak. Mulai dari finansial, emosi, sosial, sampai memenuhi kebutuhan anak akan norma dan aturan yang berlaku. Kalau memang belum siap, menurut Vera, masih ada cara berbagi yang lain, yakni dengan program anak asuh. Kalau tetap memaksakan diri, menurut Vera, justru si anaklah yang akan menjadi korban.


Kalau lemahnya sistem adopsi legal, menurut Erna Ratnaning­sih S.H., bisa dilihat dari aturan hukum yang tidak jelas, dan tidak ada penjelasan secara spesifik proses pengangkatan anak. Dalam UU No.23/ 2002 tentang Perlindungan Anak, hanya dinyatakan bahwa pengangkatan anak dilakukan untuk kepentingan yang terbaik pada anak. Selain itu, disyaratkan pengangkatan anak dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Dan satu lagi, calon orang tua angkat harus seagama dengan agama si calon anak angkat. Sementara, dalam SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) No. 6/1983, walau dicantumkan syarat dan prosedur pengangkatan anak, tak ada klausa yang menginformasikan atau menjamin apabila anak adopsi tidak diurus dengan baik. Padahal, menurut Erna, seharusnya ada peraturan perundangan yang mengatur permohonan pembatalan adopsi.


Ada berapa macam adopsi legal yang dikenal di Indonesia? Menurut SEMA dan Keputusan Menteri Sosial RI No.41/HUK/KEP/VII/1984, ada tiga. Pertama, pengangkatan anak yang dilakukan antarorang tua kandung dengan orang tua angkat yang lebih dikenal dengan adopsi privat. Baik orang tua kandung maupun angkat harus berstatus WNI. Biasanya hal ini dilakukan bila orang tua kandung dan orang tua angkat masih memiliki hubungan kerabat. Baik mereka yang berstatus menikah ataupun lajang dapat melakukannya.


Kedua, pengangkatan anak yang berada dalam asuhan sebuah yayasan sosial. Adopsi tipe ini membutuhkan izin tertulis dari menteri sosial bahwa yayasan tersebut bergerak di bidang pengangkatan anak. Pengadopsian tidak bisa dilakukan di sembarang yayasan. Hingga sekarang, hanya sedikit yayasan di Indonesia yang mendapat izin pemerintah untuk kepentingan adopsi. Adopsi ini bisa dilakukan oleh pasangan WNI yang sudah menikah minimal 5 tahun, lajang, dan WNA yang telah berdomisili di Indonesia sekurang-kurangnya tiga tahun dan sudah menikah. Untuk mereka yang berstatus WNA, tapi masih lajang, tidak diperbolehkan mengadopsi anak. Dari data di Yayasan Sayap Ibu, salah satu yayasan sosial yang berdiri sejak tahun 1955, usia calon orang tua angkat juga tidak boleh sembarangan. Hanya mereka yang berusia antara 30-45 tahun saja yang dianggap kompeten, karena dianggap sudah cukup matang, tapi belum terlalu tua.


Ketiga, adopsi anak WNA oleh orang tua angkat WNI. Adopsi jenis ini harus dilakukan oleh mereka yang telah menikah dan mendapat penjelasan tertulis dari menteri sosial atau pejabat yang ditunjuk. Untuk pengangkatan anak asing ditambahkan juga dalam UU No.62 tahun 1958, yakni anak yang diangkat usianya harus di bawah 5 tahun.


Apa saja keuntungan dari adopsi legal? Secara hukum, menurut Erna, ada dua, yaitu dari segi perwalian dan hak waris. Dalam hal perwalian, sejak putusan diucapkan oleh pengadilan, maka segala hak dan kewajiban orang tua kandung beralih ke orang tua angkat. Namun, untuk anak perempuan beragama Islam, bila dia menikah maka yang bisa menjadi wali nikah hanya orang tua kandung atau saudara sedarahnya. Hal ini disebabkan karena Islam tidak mengenal hukum adopsi. Sementara, dari segi hak waris, khazanah hukum Indonesia mengenal tiga hukum yang memiliki kekuatan yang sebanding, yakni hukum adat, Islam, dan hukum nasional.


Hukum yang dipilih umumnya dicantumkan dalam surat wasiat orang tua. Sehingga, saat salah satu dari mereka meninggal, tidak akan menimbulkan silang pendapat. Bila mengikuti lembaga adat, penentuan waris bagi anak angkat tergantung pada hukum adat yang berlaku. Bila mengikuti hukum Islam, anak angkat hanya dapat mewarisi 1/3 bagian dari harta peninggalan orang tua, yang populer dengan sebutan wasiat wajibah. Sementara, kalau mengikuti hukum nasional, pembagian warisan untuk anak kandung maupun anak angkat adalah sama.

PERJALANAN BERLIKU
Langkah apa yang dilakukan jika Anda memiliki keinginan meng–adopsi privat secara legal? Menurut Erna, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengajukan permohonan pengangkatan anak kepada pengadilan negeri tempat anak yang akan diangkat berdomisili. Isi dari permohonan tersebut adalah motivasi mengangkat anak dan penggambaran kemungkinan kehidupan si anak di masa depan. Untuk itu, Anda perlu mempersiapkan bukti-bukti yang berkaitan dengan kemampuan finansial dan kestabilan hidup, seperti slip gaji, surat kepemilikan rumah, deposito, dan lainnya.

Menurut Erna, bukti ini yang akan menjadikan bahan pertimbangan hakim. Kalau ternyata tidak punya slip gaji (misalnya karena status wiraswasta), seperti juga pengajuan kredit ke bank, Anda diwajibkan menyertakan fotokopi tabungan Anda. Pertimbangannya, dengan bukti tersebut diharapkan dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam setiap proses pemeriksaan, Anda harus menghadirkan dua orang saksi yang mengetahui seluk-beluk pengangkatan anak tersebut.


Dua saksi itu harus orang yang mengetahui betul tentang kondisi Anda (moril dan materil). Erna menyarankan, saksi tersebut sebaiknya adalah atasan atau ketua RT tempat Anda berdomisili. Bila orang tua kandung si anak masih hidup, sebaiknya mereka hadir di persidangan. Atau, setidak-tidaknya mereka memberi surat keterangan bahwa mereka membolehkan anaknya diangkat oleh orang lain. Hal ini perlu dilengkapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.


Seperti yang dialami Angelina Sondakh, 30, lajang, yang mengang­kat bayi 9 bulan bernama Christo, dari seorang wanita yang hamil di luar nikah. Ketegangan timbul ketika secara tiba-tiba pria yang mengaku ayah biologis Christo menyatakan ketidaksetujuannya putra kandungnya diadopsi. Akibatnya, hingga sekarang adopsi legal Christo masih terkatung-katung.


Bagaimana prosesnya jika anak angkat yang dirindukan itu di bawah pengasuhan yayasan sosial? Menurut Hj Rin Tjiptowinoto, ketua Yayasan Sayap Ibu Jakarta, yang sudah menangani 320 pengangkatan anak sejak tahun 1995, aturannya memang lebih ribet. Selain tetap mengikuti aturan yang baku, sebelumnya calon orang tua angkat juga harus melengkapi dokumen, melewati tahap wawancara dengan tim Sayap Ibu dan psikolog, serta menunggu rekomendasi hasil dari verifikasi tim PIPA (Perizinan Pengangkatan Anak), setelah calon anak angkat tinggal bersama mereka selama 6 bulan. Kalau ternyata masa pengenalannya dinilai sukses oleh tim PIPA, tim ini baru akan memberikan surat rekomendasi. Surat tersebut dianggap sebagai ‘surat sakti’ karena dengan bermodal surat itu orang tua asuh boleh menjalani sidang pengesahan.


Aturan ini dianggap Rin perlu dilakukan untuk mencegah praktik trafficking dan menjamin kesiapan anak angkat maupun orang tua asuh. Diakui Rin, untuk proses di atas dibutuhkan waktu sekitar 8-9 bulan, sebelum akhirnya anak tersebut sah diangkat oleh orang tua asuh melalui proses sidang. Sayangnya, sidang ini sering tertunda karena tim PIPA hanya mengadakan rapat setahun sekali. Hal inilah yang membuat calon orang tua asuh kerap mencak-mencak tidak sabar. Proses birokrasi yang lelet ini juga dialami Hermalia dan Rudiawan Saleh. Hampir dua tahun proses pengangkatan legal Tegar belum juga terwujud. Toh, demi Tegar tercinta, mereka tetap bersabar.


Bagaimana dengan proses adopsi oleh lajang? Benarkah lebih sulit, terutama pada adopsi yang sifatnya privat? Seperti yang dialami oleh Angelina. Padahal, Christo sudah diasuhnya sejak masih dalam kandungan. Bahkan, Christo adalah anak angkat kedua, karena dua tahun lalu ia juga telah mengadopsi Rena (4) dari kerabatnya.


Saking putus asa dengan status Christo yang belum jelas, akhirnya Angelina membiarkan Christo diadopsi oleh kakaknya yang sudah menikah, meski dalam praktik sehari-hari, pengasuhan anak dilimpahkan kepadanya. “Rencananya, nanti setelah menikah, saya akan mengadopsi Christo secara legal,” ujar Angelina, tegas. Toh, walau telah dilimpahkan kepada kakak, proses adopsi tersebut masih tersangkut. Rupanya, ayah biologis Christo belum mau memberikan surat pernyataan resmi.


Dari mata Erna, proses pengesahan adopsi lajang terbilang berbelit, karena hakim ingin yakin sekali dengan kemampuan dan kemauan si lajang mengasuh anak. Karena itu, mereka kerap memberi pertanyaan secara detail dan mengevaluasi lebih lama. Ini umumnya terjadi di kasus adopsi privat. Pasalnya, hukum Indonesia memberikan keleluasaan pada hakim untuk menentukan apakah orang tua angkat mampu mengasuh atau tidak. Di mata hakim, seorang lajang tentu akan lebih sulit mengatur waktu untuk si anak, terutama bila dia harus bekerja penuh untuk membiayai kebutuhan si anak. Belum lagi jika di kemudian hari, saat si lajang menikah, pasangannya tidak berniat mengadopsi.


Hal ini dibenarkan oleh Vera. Menurutnya, pantas saja hakim ragu mengesahkan status adopsi anak pada si lajang. Pasalnya, riset membuktikan bahwa orang yang sudah menikahlah yang lebih konsisten dalam melakukan pola asuh dibanding si lajang. ”Orang sudah menikah dianggap lebih stabil secara emosional. Mereka bukan lagi orang yang mencari-cari objek pemenuhan kasih sayang,” tambahnya.


Kesulitan membagi waktu memang diakui oleh Angelina, walaupun hal ini tak mematahkan semangatnya untuk mengadopsi secara legal. “Saya sadari, sebagai orang tua tunggal, saya sering harus berperang pada diri sendiri setiap kali meninggalkan anak. Misal-nya, ketika rapat di malam hari atau tugas ke luar negeri yang bisa memakan waktu 10 hingga 14 hari,” ujarnya. Aktivitasnya yang padat inilah yang membuat Rena 4 bulan terakhir lebih memilih tinggal bersama ibu kandungnya. Hal ini jelas membuat Angelina merasa sedih dan kehilangan.


Sementara, menurut Rin, anggapan bahwa adopsi yang dilakukan si lajang sering dipersulit, sama sekali tidak benar. Menu­rutnya, sudah berpuluh-puluh lajang berhasil mengadopsi dari Yayasan Sayap Ibu. Diakui Rin, ada perbedaan antara adopsi yang dilakukan si lajang dan yang sudah menikah, yaitu keputusan akhir pengadopsian ada di menteri sosial. Setelah ada persetujuan, baru sidang pengadopsian bisa dijalankan.  

SEBAIKNYA TIDAK DITUTUPI
Menurut Vera, inti mengangkat anak adalah membesarkan untuk kepentingan anak tersebut, bukan untuk diri sendiri, dan mampu memberikan cinta tak bersyarat. Untuk bisa memberikan cinta tanpa pamrih itu, diakui Vera, orang tua angkat harus berdamai dengan kenyataan dan tidak berekspektasi. Ketakutan jika di kemudian hari si anak akan meninggalkannya atau mempunyai gen yang kurang baik, harus dihilangkan. Rasa malu atau waswas jika status si anak nantinya diketahui orang lain, juga harus dikikis. Selain itu, cinta tak bersyarat tak hanya disampaikan lewat kata-kata, melain-kan juga perbuatan. Buatlah anak merasa nyaman dan dicintai, sekalipun dia sedang tak berprestasi atau berbuat kesalahan.

Potret cinta tanpa hitung-hitungan itu tampak pada pasangan Hermalia dan Rudiawan Saleh, yang berkeras mengadopsi Tegar. Tegar yang cacat secara fisik tak mereka indahkan. Niat tulus untuk menolong mengalahkan ketakutan mereka hidup membesarkan anak berkebutuhan khusus. ”Saat seorang dokter ortopedi yang saya hubungi memvonis Tegar tak bisa dipulihkan, jujur hati saya down. Tapi, bukan karena rasa takut atau malu membesarkan anak yang memiliki kelainan, melainkan tidak tega membayangkan seumur hidupnya Tegar harus tersiksa memakai sepatu besi yang berat dan tidak nyaman,” ujar Hermalia.


Walaupun kini Hermalia sedang mengandung bayi kembar tiga, diakuinya niat mengadopsi Tegar, yang sudah kembali normal, tetap kuat. ”Saya malah sakit hati ketika di akikahan Tegar ada kenalan yang berkomentar, ’Semoga kehadiran Tegar menjadi pancingan, sehingga saya bisa punya anak sendiri.’ Wong, saya mengangkat Tegar dengan niat tulus untuk membesarkan dia layaknya anak kandung sendiri,” ungkapnya, serius. Bahkan, sejak Hermalia mengetahui dirinya mengandung, dia dan suami sudah memulai pembicaraan bagaimana membagi perhatian secara adil, sehingga Tegar tak merasa ditinggalkan.


Begitu juga dengan pasangan Novita Angie dan Haryo Sapto Rajasa yang mengadopsi Jeremy Cornelius dari kerabat Angie. Saat mengetahui dirinya hamil, dia sempat bingung saat orang memberi selamat, bisa hamil karena ’pancingan’-nya berhasil. ”Pasalnya, saya tulus menyayangi dan mencintai Jeremy. Tak ada niatan untuk menggunakan Jeremy demi tujuan lain. Dia adalah anak kami, dan anak yang lahir dari rahim saya adalah adiknya,” jelas Angie panjang lebar.


Angie dan Haryo sejak awal juga sudah memutuskan status Jeremy bukanlah sesuatu hal yang perlu dirahasiakan. Bahkan, minimal setahun sekali Angie mempertemukan Jeremy dan orang tua kandungnya. Tidakkah Angie takut Jeremy akan berpaling darinya? ”Kalau memang Jeremy lebih memilih tinggal bersama orang tua kandungnya, saya tak bisa berbuat banyak. Tapi, yang terpenting bagi saya, Jeremy tak merasa dibohongi,” ujarnya, yakin.


Apakah status anak adopsi perlu diinformasikan kepada si anak? Menurut Vera, sebaiknya sejak dini hal ini tak ditutup-tutupi. Akan lebih menyakitkan jika akhirnya dia tahu dari orang lain, saat dia sudah remaja. Anak akan mengalami krisis identitas, karena merasa dirinya ditipu oleh orang-orang terdekatnya. Sebaliknya, bila sengaja ditutupi, orang tua pun menghadapi masalah. Bisa jadi setiap hari mereka dihantui rasa cemas, karena takut rahasia besarnya bocor. Bahkan, menurut Vera, rasa ketakutan itu tidak jarang membuat orang tua tidak rasional. Misalnya, sering pindah rumah dan berganti pembantu. Dan, tentu saja, hal tersebut akan berdampak buruk pada perkembangan emosi anak.  Padahal, jika diberi tahu sejak awal, orang tua dapat lebih relaks dan enjoy membesarkan anak.


Vera mengatakan, saat tepat membuka hal ini kepada anak adalah saat ia sudah memahami konsep identitas diri. ”Sebaiknya, sih, di usia 5-6 tahun. Cara memberi tahunya pun disesuaikan dengan umur mereka. Tidak secara blakblakan, tapi mulailah lewat film yang mengambil latar belakang panti asuhan atau didongengi. Sehingga, anak bisa memahami kenyataan bahwa dari kecil ada anak yang orang tuanya meninggal. Atau, tak bisa membesarkan mereka karena alasan tertentu,” papar Vera.


Jika ia sudah tampak memahami, penjelasan terbaik adalah dengan menggunakan kata-kata yang mengangkat rasa percaya diri si anak. Misalnya, dengan mengatakan, ”Kami memang orang tua angkat kamu. Kami mengangkat kamu karena kamu spesial dan kami berdua sangat mencintaimu.”


Umumnya, anak yang diberi tahu sejak dini dan tetap dilimpahi kasih sayang, reaksi kaget atau penolakannya takkan lama. Rasa percaya diri pun akan tumbuh subur, selama orang tua angkat mampu memberikan cinta tak bersyarat. Pasalnya, dia akan merasa dirinya berharga dan diakui. Menurut Vera, jika orang tua kandung dari anak yang diadopsi itu masih hidup dan tergolong kerabat, sebaiknya keberadaan mereka tak ditutup-tutupi. Latihlah anak untuk mengenal orang tua kandungnya sebagai ayah dan bunda, sementara Anda adalah papa dan mama. Cara ini yang terbaik untuk anak dan tak membuatnya terperosok dalam kebingungan.


Keterbukaan ini juga dipraktikkan oleh Angie yang membiasakan Jeremy memanggil orang tua kandungnya dengan sebutan papa-mama, sementara ia dan Sapto dipanggil mami-papi. ”Sejak dini saya tanamkan pada Jeremy untuk tak berkecil hati mempunyai dua orang tua. Ia justru mendapat kasih sayang yang komplet,” ungkapnya.


Begitu juga jika anak ini diambil dari yayasan sosial.  Ada baiknya, menurut Vera, ia diajak berkunjung ke ’akar’-nya setelah ia bisa memahami. Hal ini dapat membuat mata anak terbuka, bahwa dirinya lebih beruntung karena memiliki Anda sebagai orang tua.


Apa yang akan terjadi jika anak angkat mengetahui statusnya dari orang lain? Menurut Vera, reaksi awal anak adalah marah. Rasa marah ditunjukkan pada tiga objek. Pertama, pada diri sendiri karena merasa dirinya tak cukup berharga untuk dipertahankan orang tua kandungnya. Kedua, pada orang tua kandung yang tega membuangnya. Terakhir, pada orang tua angkat yang dianggap telah menipu dan menutupi asal-usulnya. Kalau kemarahan ini tak diselesaikan, dampaknya fatal. Anak ini bisa berkembang menjadi sosok yang agresif dan insecure.


Anda tentu tak ingin anak adopsi yang Anda kasihi hatinya terluka gara-gara keegoisan dan ketakutan diri Anda, ’kan? Sadarilah, setiap anak berhak tahu asal-usulnya, dan kejujuran, betapapun pahitnya, akan lebih indah dibandingkan kebohongan.


Penulis: Joanita Roesma


[Dari femina 5 / 2008]

Menjaga Perasaan Anak Angkat [Tips Psikologi]

Sumber : 
http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/03/11/menjaga-perasaan-anak-angkat-tips-psikologi/

Ketika seseorang memutuskan untuk mengadopsi anak, artinya ia dengan sadar telah mengambil alih peran dan tanggung jawab orang tua kandung si anak tersebut. Dan tentu orang tua adopsi yang bijak akan belajar menjaga perasaan anak adopsinya.
.
Bagaimana pola asah asih asuh yang efektif kepada anak adopsi, berikut ini tipsnya:
  1. Memberikan kasih sayang pada anak adopsi tersebut sebagaimana ia seandainya memiliki anak kandung sendiri. Bisa jadi, pada beberapa anak dengan latar belakang adopsi akan lebih sensitif, jadi Anda harus peka dan sabar menghadapinya.
  2. Tidak merahasiakan atau menghapus jejak orang tua kandung si anak. Pada usia tertentu, ketika merasa sudah saatnya si anak mengetahui jati dirinya, ajak anak duduk bersama, bicara dari hati ke hati, katakan siapa orang tua kandungnya. Ini akan lebih baik bagi mental si anak, daripada anak tersebut mengetahuinya dari orang lain. Cepat atau lambat, anak akan mengetahui atau mendengar bahwa ia bukan anak kandung Anda.
  3. Ceritakan mengapa Anda mengadopsinya. Yakinkan bahwa setelah Anda menceritakan identitas orang tua kandungnya, kasih sayang Anda padanya tidak akan berubah. Anda akan tetap menyayanginya sebagaimana biasanya.
  4. Dengan menceritakan siapa orang tua kandungnya, Anda tidak perlu khawatir bahwa ia akan meninggalkan Anda, atau rasa sayangnya kepada Anda jadi berkurang. Walaupun mungkin reaksinya akan terkejut, syok, anak akan merasakan ketulusan Anda.
  5. Ajak si anak mengunjungi orang tua kandungnya. Ajarkan padanya untuk memiliki perasaan sayang yang sama pada orang tuanya. Mungkin si anak merasa dibuang oleh orang tuanya, tugas Anda adalah memberikan pengertian sebaik-baiknya, walaupun mungkin sejarah kelahirannya bisa dikatakan kelam (misalnya anak tersebut waktu bayi, ditinggalkan begitu saja di rumah sakit, tentu ada alasannya). Berikan penjelasan yang bijak, misalnya dengan mengatakan bahwa, ‘Ibumu masih terlalu muda, belum mengerti, sementara ayahmu entah dimana. Mungkin ini skenario Tuhan. Kamu adalah anak kami yang dikirimkan Tuhan melalui Ibumu.’ Kebijaksanaan Anda akan membuat si anak semakin respek pada Anda. Tanpa sengaja, Anda juga sudah menanamkan nilai-nilai kehidupan padanya sejak dini.
  6. Tidak memanjakannya secara berlebihan. Tidak memberikan apapun yang diminta anak. Terkadang barangkali, karena merasa si anak adalah anak angkat, demi menjaga perasaannya, orang tua ingin membuatnya senang dengan memberikan apapun yang dimintanya. Sebaiknya hal demikian dihindari, sebab anak yang selalu dituruti kemauannya akan tumbuh menjadi egois dan kelak bisa jadi kontraproduktif. Tentu orang tua tidak menghendaki hal demikian.
  7. Tidak bersikap otoriter pada anak. Hindari sikap terlalu mengatur pada anak. Ada pendapat yang mengatakan, karena tidak memiliki anak kandung, sehingga tidak peka bagaimana menangani anak, tentu ini mitos belaka. Sama seperti orang dewasa ataupun semua orang dalam konteks apapun, anak juga senang dihargai pendapatnya, senang didengarkan suaranya.
  8. Tetap berkepala dingin ketika anak melakukan tindakan yang memancing emosi. Perlakukan ia sebagaimana anak sendiri. Ketika Anda harus marah, marahlah karena cinta. Jangan ketika marah misalnya, Anda mengungkit asal-usulnya dengan sinis, menyebut bahwa dia ‘anak angkat’ berulang kali, penuh penekanan. Sikap semacam itu akan melukai hati anak, akan membuatnya trauma. Si anak sudah tahu dan ‘merasa’ tanpa Anda perlu mengulanginya berkali-kali. Dalam situasi yang menegangkan, anak membutuhkan sentuhan kasih sayang, bukan pernyataan yang menambah berat hatinya.
  9. Tantangan bagi orang tua, bahwa ada saatnya orang tua harus lunak, ada saatnya orang tua harus tegas. Bagaimana orang tua bisa berada di antara keduanya. Menjadi orang tua adalah tugas seumur hidup, sebagaimana anak berproses, orang tua juga butuh proses.
  10. Banyak cara untuk belajar bagaimana menjadi orang tua adopsi yang efektif. Bertukar pikiran dengan orang tua lain yang sama-sama memiliki anak adopsi dan memiliki hubungan yang baik dengan anak adopsinya. Membaca buku-buku psikologi terkait pola asah asih asuh anak, mengikuti kelas-kelas parenting, mengikuti seminar. Pada prinsipnya, menangani anak adopsi sama dengan menangani anak kandung. Informasi terkait pola asuh anak juga bertebaran di internet, sangat mudah mengaksesnya.

Jumat, 04 Mei 2012

Sharing Pengalaman Adopsi Dari Panti Asuhan

6 tahun belum memiliki keturuan, waktu yang relatif lama bagiku. Kerinduan yang sangat besar untuk dapat menimang, memeluk, mencintai seorang anak senantiasa hadir dalam hati dan jiwaku..
hampir semua urusan medis sudah ku jalani. juga suamiku. tes demi tes, operasi, juga 2 kali inseminasi, tidak juga mewujudkan mimpi kami.
walau dokter berkata, secara medis, kami bisa mendapatkan keturunan tapi rupanya Allah belum memberikan amanah tersebut pada kami.

Sebetulnya sudah dari 2 tahun yang lalu, aku mulai memikirkan untuk mengambil jalan adopsi. aku merasa memiliki begitu banyak cinta yang dapat kuberikan pada seorang anak (walaupun bukan anak kandung).

Senin, 30 April 2012

Member Menulis : Aku ingin mendapatkan panggilan "Ayah" dari Anakku

Identitas penulis adalah member Forum Adopsi Anak, yang akan menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan keturunan, Member menulis pengalaman pribadi berjuang mendapatkan keturunan....Aku ingin mendapatkan panggilan "Ayah"

Cerita dimulai ketika membermenikah awal-awal tahun 2006, usia istriku kurang dari 28 tahun, dan aku sendiri waktu itu usia 31 tahun, usia perkawinan yang sudah agak terlambat

Saya diberikan waktu untuk menikmati indah dan pahitnya bulan-bulan awal pernikahan kami, dan mempunyai waktu lebih banyak untuk mempersiapkan segalanya yang terbaik untuk buah hati kelak.Awalnya saya cukup cuek, belum dikaruniai keturunan sampai usia pernikahan saya menginjak 6 bulan. Bahkan saya bisa dengan enteng menanggapi guruan beberapa teman mengenai infertilitas pernikahan saya, dengan menyampaikan sisi positif yang saya dapatkan dari keadaan ini. Dalam hal ini saya menanamkan dalam otak saya bahwa memang belum waktunya saya untuk menjadi seorang bapak atau ibu, walaupun sekarang ini kami sudah bukan muda lagi, saya masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk ber”pacaran” dengan istri saya.
Tidak terasa pernikahan sudah melewati usia 6 bulan, namun untunglah kami berdua sama-sama bekerja sehingga  tidak merasa terusik dengan apa yang terjadi. Mungkin karena kesibukan bekerja. Apalagi setelah mendengar kabar gembira dari adik saya dan beberapa teman yang baru menikah kalau mereka sudah hamil. Adikku menikah lebih dahulu baik dari adik ipar maupun adik sendiri, adik ipar sudah hamil, sedangkan adik sendiri masih sama-sama berjuang untuk mendapatkan keturunan, Mulai deh muncul pertanyaan aneh di kepala saya, “giliran saya kapan Ya Rabb????”
Sekali lagi, SABAR….

Sekali lagi…SABAR…
Untuk semua pasangan yang sedang berusaha memiliki buah hati….
Sabar
Sabar, sabar dan sabar, itulah kata yang sering saya ucapkan pada diri saya sendiri ketika melihat seorang wanita sedang menimang-nimang bayinya, saat melihat ibu hamil sedang dipapah oleh suaminya untuk menuruni tangga, saat tidak sengaja melihat seorang ibu sedang menyusui anak yang baru saja dilahirkannya di sebuah rumah bersalin, saat melihat foto-foto keluarga muda lengkap dengan si buah hati di profil picture beberapa teman.
Hmmmm…. Sekali lagi, SABAR…..

Tidak hanya menyalahkan istri mengapa tidak segera hamil, saya merasa bersalah sekali karena bulan-bulan sebelumnya selalu marah-marah pada istri, menyalahkan kenapa belum hamil-hamil, istriku pernah menantang ...ayo kita periksa ..mas berani gak periksa ..jangan cuma menyalahkan aku terus. Ketika usia perkawinan sudah masuk bulan ke 9 istriku mengeluh perut sebelah kiri terasa sakit, akhirnya memutuskan untuk cek laboratorium, dan sebagai suami sadar ini sudah bukan masalah istri, Member juga memutuskan untuk cek lab untuk mengetahui kualitas sperma.....
Sekali lagi, SABAR….

Sekali lagi…SABAR…kami sedang diuji...Allah sedang menguji kesabaran kami dengan hasil laboratorium yang sangat mengejutkan kami
 

......maaf tulisan berhenti, member masih menulis kelanjutannya katanya...(tulisan belum dikirim)

Jumat, 27 April 2012

Kamu itu anak Mama dan Papa sayang…… Cuma kamu tidak lahir dari Perut Mama.


Alya 17 tahun ( bukan Nama sebenarya) adalah anak yang periang, Anak rajin, anak penurut, ia adalah anak yang berparas cantik, ia sesungguhnya adalah anak angkat dan anak tunggal dari keluarga kaya, ayahnya bernama Asep adalah seorang karyawan perusahaan minyak dan ibunya yang bernama Wida adalah pekerja keras yang kini sukses dengan bisnis pakaian jadi yang sudah 10 tahun terakhir ini ditekuninya. Yah… Bapak Asep dan istrinya berusaha selalu untuk menutupi rahasia pengangkatan anak ini rapat-rapat, dari putri yang sangat ia sayangi ini. Mereka ingin Putrinya tahu bahwa mereka berdualah ayah dan ibunya Alya sesungguhnya. Setelah memasuki usia sekolah, Alya dimasukan ke sekolah gereja oleh orang tuanya yaitu SD , SMP, dan SMA, yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Kadang kadang dengan nada bercanda Teman-teman Alya mengata-ngatai bahwa Alya bukanlah anak pasangan bapak Asep dan Ibu Wida. 

Rupa-rupanya peristiwa ini sudah seringkali dialaminya oleh Alya. Baginya Apa yang didengar dari teman-temannya tidak sepenuhnya ia mengerti, karena dalam kenyataanya papa dan mamanya adalah pasangan orang tua yang sangat menyayanginya. Suatu kali saat ia duduk di bangku SD, iapun menyampaikan apa yang didengar itu kepada mamanya. Lalu apa reaksi Mamanya mendengar berita seperti ini……..?
Oh Alya anakku….. Ibu Wida melanjutkan dengan nada bercanda. ……Kamu itu anak Mama dan Papa sayang…… Cuma kamu tidak lahir dari Perut Mama.
Mendengar jawaban seperti ini Vera menjadi terhibur dan jiwanya menjadi tenang. Beberapa tahun kemudian Alya dudukdi bangku kelas 1 SMP, Peristiwa yang sama terulang kembali dialami oleh Alya , teman temannya menyampaikan persis seperti yang ia dengar saat di bangku SD dulu perihal dirinya bukan anak pak Asep dan ibu Wida. Saat hal ini disampaikan kepada Ibunya, Ibu Wida memberikan tanggapan yang sama, dengan mengatakan: Oh Alya anakku….……Kamu itu anak Mama dan Papa sayang…… Cuma kamu tidak lahir dari Perut Mama. Telah beberapa kali Alya mengadu kepada mamanya tentang ejekan dan bisikan dari teman-temannya seperti ini, Namun jawaban yang sama yang selalu mamanya sampaikan padanya.

Saat Alya memasuki Usia 17 Tahun, Ibunya dinyatakan positif hamil oleh dok ter dan hal inilah yang membuat suka cita memenuhi hatinya dan hati seluruh penghuni rumah kel Bapak Asep, bahkan keluarga besarnya, Saat Persalinan Ibu Wida yang dinanti-nantikan itu tiba, ibu Wida melahirkan seorang anak laki-laki di satu rumah sakit yang terkenal dikotanya. Sementara hati Alya dipenuhi sukacita karena hadirnya adik laki-laki mungil itu, tanpa dia sengaja ia mendengar seorang ibu menyeletuk ditengah-tengah kerumunan anggota Jemaat yang tengah membesuk dan melihat bayi dibalik kaca itu Berkata. " WAH… SI ASEP HEBAT YA…… DIUSIA PAROBAYA KINI PUNYA ANAK KANDUNG. " Ibu-ibu yang lain menimpali dengan mengatakan…IYA…YA… PAK ASEP KINI BETUL-BETUL PUNYA ANAK KANDUNG". Mendengar ucapan seperti ini Alya semakin bisa mengerti apa yang selama ini ia tidak bisa pahaminya tentang kata-kata mamanya yang selalu berkata " Alya… sayang……. kamu itu anak mama Cuma bukan lahir dari Perut Mama" itu berarti dirinya anak angkat mama, bukan anak pak Asep dan Ibu Wida yang lahir dari kandungan seorang yang selama ini ia selalu panggil mama. Kata-kata yang didengarnya pagi itu, bagaikan sambaran petir disiang Bolong bagi ALya . Kata-kata beberapa ibu itu telah membuat sekujur tubuhnya lemas … seolah tidak berdaya, hidupnya menjadi begitu terguncang, kecewa, sedih, Harga dirinya menjadi tercabik-cabik, seolah seluruh dunia ini telah menolaknya, dan tidak berharga. Semua yang dia banggakan seolah menjadi hancur berkeping-keping. Alya kini menjadi bagaikan anak liar yang sulit untuk dikendalikan, Alya yang dulu dikenal manis, penurut, anak yang rajin kegereja, kini ia telah benanar berubah. Kata yang sering Vera ucapkan disudut bibirnya ditengah-tengah kesedihanya adalah " OH TERNYATA AKU INI ANAK ANGKAT"

Rasa ditolak
Meskipun Anak angkat itu disayangi oleh orangtua yang mengadopsi/ mengangkatnya umumnya mereka tetap menyimpan dalam hatinya sebuah perasaan bahwa dia anak yang tidak diinginkan, apa pun penjelasan yang kita berikan kepadanya dia akan tetap ada yang beranggapan bahwa, "kehadiran saya didunia ini tidak diinginkan". Rasa ditolak itu bila tidak segera diobati akan menuntunya dan berpotensi membuat dirinya merasa tidak berharga didunia ini, dan berpandangan negative tentang dirinya sendiri. Pada Umumnya Yang melatar belakangi rasa ditolak ini adalah Kesedihan yang mendalam dan kemarahan yang sangat mendalam serta rasa tertipu sebab ia merasa sebagai anak kandung ternya ia bukanlah anak kandung, Dan selanjutnya mereka merasa dipermukan dan kebnyakan muncul kemarahan dan kesedihan. Hal ini bisa kita amati sebagian akan seperti Alya tadi yaitu akan menjadi depresi, murung, mengucilkan diri, tidak mau lagi bertemu dengan orang. Atau bila anak ini sedikit lebih agresif, dia lebih sering marah, dia memberontak, dia mengamuk; karena memang dua perasaan inilah yang akan muncul, rasa sedih dan rasa marah. Muncul dari satu sumber yaitu "Saya anak yang tidak diinginkan".

Loneliness
Alya yang baru mengetahui dengan jelas Fakta bahwa dia bukan anak kandung tetapi ia adalah anak angkat, di saat memasuki masa remaja Ia merasa tiba-tiba bagaikan sebatang kara didunia ini. Ia merasa tidak ada seorangpun yang memperhatikan dan memperdulikannya. Dan ada kemungkinan bila tidak dituntun oleh orang tua yang memiliki kasih yang tidak beruabah, anak bisa mengembangkan sifat tidak perduli kepada oranglain, atau sebaliknya, menjadi terlalu memperhatikan orang lain dan mengorbankan dirinya sendiri. Untuk itu yang diperlukan oleh anak angkat setelah diberi invormasi tentang keberadaan dirinya adalah Kasih dan sayang serta perhatian orang tua yang tetap konsisten dan tidak berobah sekalipun mendapat anak yang lahir dari kandungannya.

Merasa dibuang.
Merasa tidak di kehendaki/ diinginkan dan dibuang oleh orang tua kandung, cenderung mendorongnya berusaha keras untuk memperoleh penerimaan itu. Adakalanya ia berusaha menjadi terlalu bekerja keras, untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia layak untuk dicintai dan disayangi dan layak menjadi bagian dari keluarga yang mengangkatnya.

Jangan dirahasiakan
Sebagian orang tua masih tetap mencoba menutupi rapat-rapat informasi tentang anak angkatnya, hal seperti ini Menurut Vera berdampak bagi orng tua seperti ini "bisa jadi setiap hari mereka dihantui rasa cemas, karena takut rahasia besarnya bocor. Bahkan, menurut Vera, rasa ketakutan itu tidak jarang membuat orang tua tidak rasional. Misalnya, sering pindah rumah dan berganti pembantu. Dan, tentu saja, hal tersebut akan berdampak buruk pada perkembangan emosi anak. Padahal, jika diberi tahu sejak awal, orang tua
dapat lebih relaks dan enjoy membesarkan anak.
 Dan bila anak angkat mengetahui statusnya dari orang lain bukan langsung dari orang tua angkatnya sendiri Menurut Vera, " reaksi awal anak adalah marah. Rasa marah ditunjukkan pada tiga objek. Pertama, pada diri sendiri karena merasa dirinya tak cukup berharga untuk dipertahankan orang tua kandungnya. Kedua, pada orang tua kandung yang tega membuangnya. Terakhir, pada orang tua angkat yang dianggap telah menipu dan menutupi asal-usulnya. Kalau kemarahan ini tak diselesaikan, dampaknya fatal. Anak ini bisa berkembang menjadi sosok yang agresif dan insecure.

Dampak makin besar saat anak dewasa.
Alasan kenapa Informasi tentang anak angkat perlu sejak usia dini diberitahukan sebab kalau itu diberitahukan kepada si anak sewaktu dia masih usia kecil, pengetahuan atau informasi tentang dia bukan anak kandung, hal sepereti itu tidak memberi dampak emosional yang sama sebagaimana kalau dia sudah dewasa. Seperti pengalaman Alya tadi waktu ALya sudah dewasa atau kita memasuki usia remaja, informasi bahwa kita bukanlah anak kandung itu mengagetkan dan mempunyai makna, mempunyai bobot emosional tertentu, saya tertolak dan sebagainya. Tapi kalau itu diberitahukan kepada anak yang masih berusia 5 hingga 6 tahun, bobot emosional yaitu perasaan saya itu dibuang atau ditolak, saya tidak diinginkan, itu belum ada, kalaupun sudah ada itu masih sedikit. Sebab anak usia-usia 5-6 tahun belum memiliki kemampuan mental untuk mencerna bobot emosional seperti itu. Menurut Vera seorang psycholog kawakan ia mengatakan: "sebaiknya sejak dini Anak angkat perlu diinformasikan hal initak ditutup-tutupi Inilah alasannya.

Cara memberitaukan identitasnya.
sekali lagi Vera memaparkan bagaimana cara memberitahukan identitas anak asuh sebagai berikut : 1)" Cara memberi tahu anak disesuaikan dengan umur mereka. Tidak langsung secara blakblakan, tapi mulailah atau awali dengn melalui film yang kita tonton bersama yang mengambil latar belakang panti asuhan atau didongengi. Sehingga, anak bisa memahami kenyataan bahwa dari kecil ada anak yang orang tuanya meninggal. Atau, tak bisa membesarkan mereka karena alasan tertentu," 2) Jika ia sudah tampak memahami, penjelasan terbaik adalah dengan menggunakan kata-kata yang mengangkat rasa percaya diri si anak. Misalnya, dengan mengatakan, "Kami memang orang tua angkat kamu. Kami mengangkat kamu karena kamu istimewa l dan kami berdua sangat mencintaimu. Dan lain sebagainya

Yang seharusnya dimiliki oleh orang tua angkat.
1) Motifasi Kasih.
Joanita Roesma dalam Artikelnya berjudul Kasih tak bersayarat untuk anak angkat/ adopsi mengutip apa yang disampaikan oleh Roslina Verauli, yang dipanggil akrab dengan vera mengatakan: "kebanyakan masalah yang timbul dari proses adopsi adalah ketidaksiapan orang tua adopsi. Kebanyakan dari mereka mengangkat atau mengadopsi anak sebagai objek. Entah motivasinya untuk ‘memancing’ agar memiliki anak kandung, sekadar membagi rezeki, atau dianggap sebagai ‘syarat’ untuk melancarkan rezeki. Atau bisa juga, mengadopsi anak agar hidupnya tidak kesepian.

2) Harus Dengan Rela dan Tulus .
Sebagian Orang tua mereka nekat mengadopsi anak, padahal ada kekurangan yang belum diselesaikan. Misalnya, rasa frustrasi karena tak bisa memiliki keturunan atau pasangan yang sebetulnya tidak ikhlas menjalankan perannya sebagai orang tua angkat. Bila masih ada perasaan seperti ini Tunda dulu Bereskan diri dulu, Hingga kerelaan dan ketulusan mewarnai hidup kita.

3) Kesiapan
Sebelum mengadopsi anak, kita mesti siap lahir batin menerima kedatangannya di dalam kehidupan kita. Ada orang tua yang sering marah-marah pada anak angkat karena rewel, sedikit nakal, jorok, Ada juga orang tua yang mengangkat anak, tetapi tidak berani mendisiplin anak, anak lebih banyak dibiarkan, tidak disekolahkan dengan baik, Ada orang yang mengangkat anak namun tidak siap untuk menerima sepenuhnya kehadiran anak dalam jadwal kehidupannya. Anak langsung diserahkan kepada pembantu.

4) Kasih tak berkesudahan.
Orangtua mestinya memperlakukan anak angkat seperti anak kandung, dalam pendidikan, dalam kasih sayang, dalam pembagian warisan karena fakta inilah yang akan berbicara kepadanya tatkala ia tengah mengalami pergolakan.

5) Agar ada Ikatan Batin Yang kuat.
Untuk bisa menjalin ikatan batin yang kuat antara anak dan orang tua angkat, sebaiknya kita mengadopsi anak sejak bayi, bila mengadopsi anak sementara mereka sudah besar, maka ikatan batin antara orang tua dan anak tidak sekuat bila kita adopsi semasih bayi.

6) Diberitahukan semasih belum menginjak Remaja.
Sebaiknya anak Angkat atau adopsi diberitahukan status sebenarnya pada waktu ia sebelum memasuki masa akil balik atau masa remaja, sehingga bila akan terjadi pergolakan, Tidak akan berdampak besar pada remaja yang sedang menghadapi pergolakan masa puber dengan berbagai perubahan phisyknya, dan mentalnya.

7) Lakukan sesuai dengan Prosedur Hukum Yang berlaku.
Surat Edaran Mahkamah Agung RI No.6/83 yang mengatur tentang cara mengaangkat atau mengadopsi anak menyatakan bahwa untuk mengadopsi anak harus terlebih dahulu mengajukan permohonan pengesahan/pengangkatan kepada Pengadilan Negeri di tempat anak yang akan diangkat itu berada. Setelah permohonan Anda disetujui Pengadilan, Anda akan menerima salinan Keputusan Pengadilan mengenai pengadopsian anak. Salinan yang Anda peroleh ini harus Anda bawa ke kantor Catatan Sipil untuk menambahkan keterangan dalam akte kelahirannya. Dalam akte tersebut dinyatakan bahwa anak tersebut telah diadopsi dan didalam tambahan itu disebutkan pula nama Anda sebagai orang tua angkatnya.

Rabu, 25 April 2012

Jemputlah anak Anda yang dititipkan Allah melalui rahim orang lain!

 Sumber : https://www.facebook.com/note.php?note_id=215477808476341

Setelah menelusuri berbagai artikel dan pengalaman orang lain dalam hal mengadopsi anak, sepertinya saya harus meredam keinginan saya untuk mengadopsi anak dari sebuah yayasan. Karena ternyata yang diperbolehkan dalam peraturan adalah pasangan suami istri yang belum memiliki anak. Sementara saya sudah memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan lagi. Jadi saya termasuk dalam kategori orang tua dengan anak lengkap.

Syarat berikutnya adalah menikah minimal 5 tahun dan berusia antara 25 sampai 45 tahun. Saya sebenarnya memenuhi syarat kedua ini tapi sayangnya sudah terganjal di syarat pertama. 

Sebenarnya saya maklum, kenapa orang yang sudah memiliki anak tidak dibolehkan mengadopsi anak di sebuah yayasan. Mungkin lantaran khawatir akan membeda-bedakan perlakuan antara anak kandung dan anak angkatnya. Padahal menurut saya itu bukan alasan yang kuat karena banyak juga orang tua yang bisa berlaku adil terhadap anak angkat mereka sampai si anak angkat pun nyaman dan merasa diperlakukan seperti anak kandung.

Atau mungkin juga lantaran orang yang belum punya anak dianggap lebih berhak dan lebih bisa mencurahkan perhatian serta kasih sayangnya disebabkan mereka belum punya anak. Saya rasa ini pun bukan jaminan sebenarnya. Bisa saja orang yang belum punya anak justru malah lebih kaku sebab tidak menjalani proses hamil dan melahirkan yang merupakan terminal awal terikatnya kasih sayang antara orang tua dan anak. Sementara mereka yang sudah melewati proses berat itu tentu tahu betul betapa tidak ringannya menghadirkan seorang anak ke dunia dan sudah berpengalaman pula dalam mengasuh seorang anak. Alasan saya ini juga bukan menafikan adanya orang tua yang tidak becus mengurus anak kandungnya sendiri.

Lagi pula, sepanjang pengamatan saya (mudah-mudahan tidak benar) suami istri yang belum memiliki anak cenderung takut melakukan adopsi meski secara batin mereka sudah sangat ingin memiliki anak. Mereka lebih memilih menunggu dengan alasan, "Kata dokter kami berdua sehat dan bisa punya anak. Memang belum dikasih saja sama Tuhan. Banyak kok orang yang memiliki anak setelah belasan tahun menikah."

Kita mungkin sudah sangat sering mendengar kalimat di atas. Keinginan untuk memiliki anak kandung adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan saya paham betul betapa kuatnya keinginan itu bagi pasangan yang sudah menikah. Namun haruskah menunggu sampai belasan tahun untuk bisa menikmati indahnya jadi orang tua? Tidakkah lebih indah jika jeda waktu yang begitu panjang juga diisi dengan mengasuh seorang anak adopsi yang bisa memberi keceriaan di antara suami istri sambil menunggu hadirnya buah hati dari rahim dan sulbi sendiri. Jeda waktu yang meresahkan itu tak perlu lagi diselingi keluhan-keluhan seperti berikut...

"Saya merasa seperti perempuan yang tidak sempurna di mata suami dan mertua lantaran belum juga hamil sampai sekarang."

"Saya selalu berusaha menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas agar lupa akan kesepian saya karena belum juga punya anak."

"Saya benci sekali tiap kali orang bertanya, sudah punya anak berapa?"

"Sungguh membosankan sekaligus menyebalkan tiap kali orang menyuruh kami berobat kesana berobat kemari, memangnya mereka pikir kami nggak berusaha?"

"Suami saya tidak pernah mau periksa ke dokter, padahal bisa jadi dia yang mandul, tapi selama ini selalu saya yang disalahkan!"

"Rasanya ini lebih berat dibanding para gadis yang belum menikah di usia menjelang 40 tahun."

Saya ikut sedih untuk teman-teman dan semua orang yang belum dikaruniai anak setelah sekian lama menikah. Tapi sebenarnya mereka tidak butuh dikasihani, mereka cuma butuh solusi dan pengertian dari semua pihak untuk tidak terus didesak. Siapa sih yang tidak ingin punya anak?

Sejujurnya saya ingin menyarankan mereka untuk mengadopsi anak, tapi sepertinya itu bukan saran yang tepat (meski menurut penilaian saya mereka sangat layak lho menjadi orang tua adopsi), karena itulah saya pun tidak akan menyarankan pada mereka untuk menjadikan adosi sebagai jalan keluar. Kenapa? Karena buat mereka saat ini yang jadi prioritas utama adalah memiliki anak kandung. Karena itu pulalah saya yang sudah punya sepasang anak kandung mengambil alih tempat tersebut dengan mencalonkan diri sebagai orang tua asuh.

Lalu apa kira-kira komentar orang?

"Berat lho ngadopsi anak orang!"
"Pikir lagi deh, ntar kalau sudah besar malah berebut warisan sama anak kandungmu."
"Jangan-jangan anak itu anak haram, atau punya orang tua yang bejat, bisa repot kamu nanti."
"Kayak orang-orang kaya aja. Emangnya kamu sudah punya harta dan uang banyak utk mengadopsi anak orang?"

Mungkin banyak lagi komentar miring yang bisa saya dengar jika keinginan itu benar-benar saya realisasikan. Faktanya, mengadopsi anak orang lain pasti berat, lha wong mengasuh anak sendiri saja sudah berat. Tapi jangan salah, belum tentu anak adopsi lebih merepotkan dibanding anak kandung. Banyak kasus yang membuktikan anak kandung lebih manja, lebih egois dan kalah berbakti dibanding anak angkat.

Soal berebut warisan, apa tidak terlalu berlebihan? Dan soal orang tua kandungnya yang bejat, bukankah itu bukan jaminan anaknya juga pasti bejat. Nabi Ibrahim saja ayahnya adalah pembuat berhala bukan? Lalu soal kekayaan, apa iya kita harus menunggu sampai kaya raya baru bersedia mengadopsi anak? Apa iya orang yang kaya selalu mau mengadopsi anak? Apakah kekayaan bisa jadi jaminan kenyamanan bagi seorang anak?

Mungkin banyak ketakutan lain yang mampir di benak setiap orang tentang anak adopsi, tapi tidak bisakah kita memandang hal ini dari sisi kemanusiaannya. Betapa kita sudah melakukan hal yang sangat besar untuk masa depan anak-anak yang tak beruntung. Soal apakah kelak ia akan jadi anak berbakti atau soal apakah kelak kita akan mampu menyekolahkannya sampai tinggi, saya rasa itu sama saja posisinya dengan anak kandung. Artinya itu hanya ketakutan yang tak perlu dibesar-besarkan. 

Bukankah hal terpenting adalah perhatian dan kasih sayang yang tulus? Ada kok penjual jamu gendong menyekolahkan anaknya sampai sarjana. Dan ada juga penyapu jalanan berhasil mendidik anaknya hingga dapat beasiswa keluar negeri. Intinya, begitu seorang anak kita adopsi, maka sesungguhnya dia sudah menjadi anak kita, menjadi bagian diri kita yang akan kita pertanggungjawabkan seperti anak kandung. Jadi pada hakikatnya kita mengadopsi anak kita sendiri yang memang sudah ditakdirkan Allah terlahir dari rahim dan sulbi orang lain. Dan ini bukan dosa atau aib.

Namun apapun alasan saya dan apapun alasan orang yang membuat peraturan adopsi, tentu dilandasi niat memberikan yang terbaik bagi seorang anak yang kurang beruntung dalam hal pengasuhan. Logikanya memang yang paling tepat untuk mendapatkan hak adopsi adalah pasangan suami istri yang menikah secara sah, belum memiliki anak, memiliki penghaslan yang memadai, dan tentunya tulus mengedepankan kepentingan anak yang akan diadopsi, bukan semata melampiaskan hasratnya untuk punya anak.

Mungkin saya menganggap peraturan adopsi agak membatasi hak saya sebagai orang yang sudah memiliki anak, lantaran dalam peraturannya orang yang belum menikah justru dibolehkan padahal menurut saya seorang anak selayaknya diasuh oleh orang tua yang lengkap. Namun di sisi lain bisa jadi alasan saya juga terkesan egois. Dianggap 'kemaruk' karena masih ingin memiliki anak orang lain padahal sudah punya anak kandung. Tapi saya merasa lebih egois kalau berkata pada diri sendiri, "Sudahlah, urus saja anakmu yang sudah ada, jangan berpikir ingin mengurus anak orang segala! Mengurus anak sendiri saja belum tentu becus!"

Okelah, saya dianggap egois atau kemaruk.... tapi sungguh, hati saya selalu miris melihat, membaca dan mendengar tentang bayi-bayi dan anak-anak yang dibuang, dititipkan, atau dijual oleh orang tuanya sendiri. Belum lagi anak-anak yatim piatu korban kerusuhuan dan bencana alam. Sementara di yayasan penampung belum tentu mereka mendapatkan semua yang berhak mereka dapatkan.

Mungkin saya terdengar sok moralis, tapi sesekali cobalah  mendatangi yayasan penampung anak terlantar, yayasan penampung anak-anak TKW hasil perkosaan, dll. Lihat bagaimana mata anak-anak itu menatap Anda, menyambut Anda dengan penuh harapan bahwa Anda lah orang tua yang mereka tunggu-tunggu untuk mengadopsi, membawa mereka ke dalam sebuah keluarga yang lengkap dan  nyaman. Yang menerima mereka dengan tulus tanpa syarat bibit, bebet dan bobot. Perhatikan bagaimana bayi-bayi yang lucu itu begitu menggoda hati untuk dipeluk, dibelai dan disayang sepenuh hati. Datang, lihat dan rasakanlah...

Siapa tahu di antara wajah-wajah tak berdosa itu ada anak Anda!

(Tersentuh sekali atas kata-kata seorang ibu atas kematian anak adopsinya, "Dia pernah berkata, jika di akhirat dia melihat saya dan orang tua kandungnya ada dalam neraka, maka saya lah yang akan ditariknya menuju surga.")

Wassalam

Saya yang sangat ingin mengadopsi bayi-bayi kurang beruntung itu, namun sesungguhnya belum memiliki kelayakan untuk mengadopsi...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Terbaru

Daftar Blog Saya